Ada satu ketakutan yang hampir semua anak rasakan saat pertama kali harus berinteraksi dengan orang asing.
Bukan takut tidak bisa berbahasa Inggris.
Tapi takut salah bersikap.
Takut canggung.
Takut melakukan sesuatu yang keliru di depan orang yang baru dikenal.
Itulah yang dirasakan Cinta Yuna Maritza, siswi kelas 9A SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring, menjelang program Language & Cultural Exchange 2026 bersama Mount Evelyn Christian School, Australia.

Gugup Bukan karena Bahasa, tapi karena Takut Salah Sikap
Saat pertama kali tahu akan bertemu langsung dengan pelajar dari Australia, yang muncul di pikiran Cinta justru bukan soal kosakata atau grammar.
“Aksen Australia,” tulisnya, tentang hal pertama yang terlintas di kepalanya.
Rasa penasaran itu jugalah yang membuatnya bersemangat menjelang hari pelaksanaan.
Tapi semakin dekat harinya, rasa gugup pun ikut datang.
“Ya, karena takut salah perilaku atau canggung,” tulis Cinta jujur, saat ditanya apakah ia sempat merasa kurang percaya diri.
Ketakutan itu masuk akal. Bertemu orang dari budaya yang berbeda bukan cuma soal bahasa apa yang dipakai, tapi juga bagaimana caranya bersikap agar tetap nyaman untuk kedua belah pihak.
Mengajari Bakiyak, Belajar Boomerang
Dalam kegiatan ini, Cinta mendapat peran istimewa: mengajari teman-teman dari Australia cara bermain bakiyak, permainan tradisional Indonesia yang mengandalkan kekompakan tim.
Momen paling berkesan justru datang dari arah sebaliknya, ketika ia diajak ikut bermain flowerpot, permainan khas Australia yang belum pernah ia coba sebelumnya.
Ada juga obrolan ringan yang sampai sekarang masih ia ingat: soal Formula One.
Sesuatu yang mungkin terdengar sepele, tapi justru dari obrolan-obrolan kecil semacam itulah rasa canggung di awal perlahan mencair.
Ia juga menemukan satu hal yang menarik perhatiannya: di Australia, ada batasan penggunaan media sosial untuk remaja di bawah usia tertentu. Bagi Cinta, itu bukan sesuatu yang aneh, melainkan cara lain melihat bagaimana negara lain menjaga generasi mudanya.

Belajar Bahasa Inggris dengan Cara yang Berbeda
Bicara langsung dengan penutur asli ternyata memberi tantangan tersendiri buat Cinta. Bukan soal berbicara, tapi soal mendengarkan dan memahami.
“Memahami apa yang mereka bilang,” tulisnya, saat ditanya soal tantangan terbesar selama berkomunikasi.
Namun Cinta menemukan solusi sederhana: tidak ragu untuk meminta lawan bicaranya mengulang kalimat sekali lagi.
Cara itu terdengar kecil, tapi sebenarnya butuh keberanian tersendiri, terutama bagi anak yang tadinya takut dianggap salah tingkah.
Dari sinilah kemampuan yang paling ia rasakan berkembang: listening, kemampuan mendengarkan dan memahami percakapan secara langsung, sesuatu yang jarang benar-benar dilatih hanya lewat buku pelajaran.
Dari Takut Salah, Jadi Lebih Percaya Diri
Ketika ditanya apakah pengalaman ini mengubah dirinya, jawaban Cinta singkat namun jujur.
“Ya, karena merasa lebih percaya diri.”
Ia juga mengaku, di awal sempat mengira kegiatan ini akan membosankan. Kenyataannya jauh berbeda.
“Ternyata betapa asyiknya kegiatan volunteer,” tulisnya.
Jika harus merangkum semua pengalamannya dalam tiga kata, jawaban Cinta adalah Nagih. Seru. Senang.
Kata “nagih” menarik untuk digarisbawahi. Karena biasanya, hal yang bikin nagih adalah hal yang di awal terasa menakutkan, tapi ternyata menyenangkan setelah benar-benar dicoba.
Pesan untuk Adik Kelas: Jangan Malu Duluan
Pengalaman itu membuat Cinta punya pesan sederhana untuk adik-adik kelasnya yang mungkin nanti mendapat kesempatan serupa.
“Jangan malu, ambil kesempatan ngobrol sebanyak-banyaknya.”
Kalimat itu terasa berbeda ketika datang dari seseorang yang di awal justru paling takut salah tingkah. Ia tahu persis rasanya menahan diri karena canggung, dan tahu juga apa yang didapat kalau berani melewati rasa itu.
Bahkan sekarang, jika diberi kesempatan bertemu lagi dengan teman-teman Australia, Cinta sudah punya rencana: belajar lebih banyak budaya Australia, dan mencoba bermain boomerang.
Lebih dari Sekadar Bahasa, Ini soal Kesiapan Menghadapi Dunia
Bagi Cinta, pengalaman ini bukan cuma soal melatih Bahasa Inggris. Ia menyadari, di dunia kerja nanti, interaksi lintas budaya dan bahasa internasional akan semakin sering dibutuhkan.
“Membantu dalam hal kebahasaan, karena pekerjaan semakin banyak yang membutuhkan interaksi atau bahasa internasional,” tulisnya, saat ditanya bagaimana kegiatan ini mempersiapkannya menghadapi masa depan.
Dan yang tidak kalah penting, satu pelajaran yang ia bawa pulang bukan hanya soal kepercayaan diri, tapi juga soal nilai.
“Adab dan sopan santun,” tulis Cinta, ketika diminta melengkapi kalimat tentang apa arti menjadi siswa berprestasi di MPlus.
Karena baginya, menjadi berani bukan berarti melupakan sopan santun. Justru sebaliknya: keberanian yang paling berharga adalah keberanian yang tetap dijalankan dengan adab.
Inilah yang Terjadi Ketika Anak Diberi Ruang untuk Mencoba
Kisah Cinta menunjukkan sesuatu yang sederhana tapi penting: rasa takut salah tingkah adalah hal yang wajar dialami siapa pun, termasuk anak-anak yang terlihat baik-baik saja di kelas.
Yang membedakan bukan soal siapa yang paling percaya diri sejak awal, tapi siapa yang berani tetap mencoba meski gugup.
Di SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring, program seperti Language & Cultural Exchange dihadirkan justru untuk memberi ruang itu — ruang untuk gugup, mencoba, salah, dan akhirnya menemukan versi diri yang lebih percaya diri.
Tertarik Memberi Anak Kesempatan Belajar yang Sama?
SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring terus menghadirkan program yang tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membentuk karakter, adab, dan keberanian menghadapi dunia yang semakin terbuka.
Karena kami percaya, anak tidak perlu sempurna dulu untuk berani mencoba. Mereka hanya perlu diberi kesempatan.
Ikuti media sosial resmi kami:
▶ YouTube: SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring
📷 Instagram: @smp_mplus_gunungpring
📘 Facebook: SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring
🎵 TikTok: @smpmuhammadiyahplusgunungpring
Informasi lengkap SPMB dapat diakses melalui:
https://smpmplus.sch.id/info_spmb/
