SMP MPlus Gunungpring

Banyak anak sebenarnya punya kemampuan. Nilai Bahasa Inggris bagus, hafal kosakata, paham grammar, bahkan sering mendapat pujian saat presentasi di kelas.

Tetapi ketika harus berbicara langsung dengan orang asing, tiba-tiba semua terasa hilang.

Lidah kelu.

Kata-kata menghilang.

Dan rasa percaya diri mendadak turun.

Itulah yang hampir dialami Dzakira Lubna Nisa, siswi kelas 9B SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring, ketika sekolah membuka seleksi volunteer untuk mendampingi siswa dari Mount Evelyn Christian School, Australia, dalam program Language & Cultural Exchange 2026.

Yang menarik, perjalanan Lubna tidak dimulai dari rasa percaya diri.

Justru dimulai dari satu kalimat yang sangat jujur.

“Aku yakin nggak bakal kepilih.”

Awalnya Pesimis karena Kuota Volunteer Hanya Lima Orang

Ketika pengumuman pendaftaran volunteer dibuka, Lubna langsung tertarik. Kesempatan bertemu pelajar dari Australia terdengar seru dan berbeda dari kegiatan sekolah pada umumnya.

Namun antusiasme itu langsung bertemu dengan kenyataan.

Kuota volunteer yang dibuka saat itu hanya lima orang.

“Aku dari awal pesimis karena volunteer per angkatan kuotanya cuma lima,” tulis Lubna dalam lembar refleksi setelah kegiatan.

Ia benar-benar merasa peluangnya kecil.

Bahkan sebelum seleksi dimulai, ia sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan tidak lolos.

Tetapi ada satu hal yang patut diapresiasi.

Meski pesimis, ia tetap mendaftar.

Keputusan sederhana itu kemudian mengubah banyak hal.

Hari Pengumuman yang Mengubah Segalanya

Ketika nama Lubna muncul dalam daftar volunteer, rasa tidak percaya langsung bercampur dengan kegembiraan.

Yang pertama terlintas di kepalanya bukan soal presentasi, grammar, atau percakapan formal.

“Aktivitasnya yang seru, dan wajah-wajah bulenya,” tulisnya sambil tertawa saat diwawancarai.

Jawaban itu sangat khas anak SMP.

Jujur.

Polos.

Dan justru membuat cerita ini terasa dekat dengan kehidupan banyak siswa.

Namun semakin dekat ke hari pelaksanaan, muncul kegelisahan baru.

“Aku mikir aku kurang asyik kalau ngobrol sama mereka.”

Di situlah rasa minder mulai muncul.

Saat Semua Kosakata Mendadak Hilang

Hari pertama akhirnya tiba.

Lubna mulai mendampingi siswa Australia.

Mereka menyapa dengan ramah.

Lubna membalas senyum mereka.

Lalu…

Semua kosakata Bahasa Inggris yang selama ini dipelajari seperti mendadak menghilang.

“Grogi sekali. Tiba-tiba jadi susah bilang kata-katanya.”

Kalimat itu mungkin mewakili perasaan banyak siswa ketika pertama kali harus berbicara dengan penutur asli.

Bukan karena tidak bisa.

Tetapi karena gugup.

Namun Lubna memilih bertahan.

Ia menarik napas.

Menenangkan diri.

Lalu mengingat satu kalimat sederhana yang terus ia pegang.

“Nothing is impossible.”

Semakin lama mengobrol, rasa gugup itu perlahan berubah menjadi rasa nyaman.

Percakapan mulai mengalir.

Tawa mulai muncul.

Dan tanpa disadari, rasa percaya dirinya tumbuh sedikit demi sedikit.

Momen yang Membuat Lubna Bangga Menjadi Orang Indonesia

Pengalaman paling berkesan ternyata bukan ketika ia berhasil berbicara menggunakan Bahasa Inggris.

Melainkan ketika melihat antusiasme teman-teman Australia terhadap budaya Indonesia.

Mereka menikmati permainan tradisional.

Mereka tertarik belajar Bahasa Indonesia.

Mereka kagum melihat tarian daerah.

Ada satu percakapan yang sampai sekarang masih diingat Lubna.

Seorang siswi Australia bertanya tentang lagu Indonesia yang mereka dengar.

Lubna sempat mengira mereka tidak akan menyukainya.

Ternyata dugaannya salah.

“Mereka justru suka. Aku bangga karena ternyata lagu Indonesia punya ciri khas sendiri.”

Momen sederhana itu membuatnya sadar bahwa memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia adalah pengalaman yang sangat membanggakan.

Ternyata Belajar Dunia Bisa Dimulai dari Obrolan Sederhana

Selama mendampingi siswa Australia, Lubna juga menemukan hal-hal yang tidak pernah ia pelajari di buku paket.

Salah satunya ketika mengetahui bahwa di Australia, anak-anak di bawah usia 16 tahun memiliki aturan yang jauh lebih ketat dalam penggunaan media sosial.

Alih-alih menganggapnya aneh, Lubna justru melihatnya sebagai cara menjaga pergaulan remaja agar tetap sehat.

Dari sana ia belajar bahwa setiap negara memiliki kebiasaan, aturan, dan cara pandang yang berbeda.

Dan memahami perbedaan itu membuat seseorang menjadi lebih terbuka terhadap dunia.

Dari Anak yang Pesimis Menjadi Anak yang Berani Mencoba

Ketika diminta menggambarkan seluruh pengalaman ini dalam tiga kata, Lubna menjawab singkat.

Seru. Asyik. Menyenangkan.

Namun perubahan terbesar sebenarnya bukan pada tiga kata itu.

Perubahan terbesar ada pada cara ia memandang dirinya sendiri.

Dulu ia merasa peluangnya kecil.

Kini ia justru berani mengajak adik kelasnya untuk tidak takut mengambil kesempatan.

“Jangan takut. Jangan kemakan omongan kalau acaranya nggak seru. Kalau kamu punya potensi Bahasa Inggris, ambil kesempatan itu dan harus percaya diri.”

Kalimat itu terasa kuat karena datang dari seorang anak yang sebelumnya mengaku pesimis.

Inilah Mengapa MPlus Tidak Hanya Mengajar, tetapi Memberi Kesempatan

Di SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring, pembelajaran tidak berhenti di ruang kelas.

Program seperti Language & Cultural Exchange dirancang agar siswa mengalami langsung bagaimana rasanya berkomunikasi lintas budaya, menggunakan Bahasa Inggris dalam situasi nyata, dan membangun kepercayaan diri melalui pengalaman.

Lubna membuktikan bahwa keberanian sering kali tidak muncul sebelum mencoba.

Keberanian justru tumbuh saat seseorang diberi kesempatan untuk mencoba.

Mungkin itulah pelajaran terbesar dari kisah ini.

Seorang siswi yang awalnya yakin tidak akan lolos, akhirnya pulang dengan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar pengalaman bertemu pelajar Australia.

Ia pulang dengan keyakinan baru.

Bahwa ia ternyata mampu.

Bahwa ia bisa berbicara.

Dan bahwa satu kesempatan kecil bisa mengubah cara seorang anak melihat dirinya sendiri.

Tertarik Memberi Anak Kesempatan Belajar yang Sama?

SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring terus menghadirkan program yang tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membentuk karakter, kepemimpinan, kemampuan komunikasi, dan keberanian menghadapi dunia global.

Karena kami percaya, anak tidak hanya perlu pintar di atas kertas. Anak perlu berani mencoba, berani berbicara, dan berani melangkah ketika kesempatan datang.

Ikuti media sosial resmi kami:

▶ YouTube: SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring
📷 Instagram: @smp_mplus_gunungpring
📘 Facebook: SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring
🎵 TikTok: @smpmuhammadiyahplusgunungpring

Informasi lengkap SPMB dapat diakses melalui:
https://smpmplus.sch.id/info_spmb/