Ada kalanya anak tidak membutuhkan lebih banyak nasihat.
Ia hanya perlu ditempatkan pada sebuah pengalaman yang membuatnya berkata dalam hati, “Ternyata saya bisa.”
Itulah yang dialami Reynard Dzaiqiy Muazzam, siswa kelas 8B SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring, ketika mengikuti kegiatan Bina Mental (BINTAL) di Yon Armed 11 Kostrad Guntur Geni.
Sebelum berangkat, ia tidak datang dengan rasa percaya diri penuh.
Justru sebaliknya.
“Jantung berdebar sangat kencang,” tulis Reynard ketika ditanya apa yang ia rasakan saat pertama kali mengetahui akan mengikuti BINTAL.
Alasannya sederhana: ia akan bertemu dengan para tentara.
Namun, beberapa hari kemudian, anak yang awalnya datang dengan rasa khawatir itu pulang dengan tiga kata yang sangat berbeda:
Berani. Tertib. Disiplin.

Bukan Sekadar Latihan Fisik
Bagi sebagian siswa, mendengar kata BINTAL mungkin langsung terbayang kegiatan fisik, latihan, atau instruksi yang harus dilakukan dengan cepat dan tepat.
Reynard pun awalnya membayangkan hal yang tidak jauh berbeda.
“Latihan terus-menerus,” tulisnya ketika ditanya apa yang ia pikirkan sebelum kegiatan dimulai.
Namun pengalaman di lapangan ternyata memberikan lebih dari sekadar aktivitas fisik.
Ada outbound. Ada latihan yang menguji ketahanan diri. Ada momen ketika tubuh mulai lelah. Bahkan ada pengalaman yang menurut Reynard menjadi salah satu bagian paling menantang: berendam di sungai.
Di titik-titik seperti itulah sebuah kegiatan BINTAL mulai menemukan maknanya.
Bukan sekadar tentang siapa yang paling kuat.
Tetapi tentang siapa yang mampu tetap menjalankan tanggung jawab ketika keadaan tidak lagi nyaman.





Saat Tubuh Mulai Lelah, Apa yang Membuat Kita Bertahan?
Salah satu pertanyaan paling menarik dalam wawancara Reynard adalah ketika ia ditanya:
Apa yang kamu lakukan ketika mulai lelah atau ingin menyerah?
Jawabannya singkat.
“Memikirkan sesuatu yang membuat semangat.”
Sederhana, tetapi justru di situlah letak pelajarannya.
Ketahanan mental tidak selalu dibangun dari sesuatu yang besar. Kadang, seseorang hanya perlu mengingat alasan mengapa ia harus terus melangkah.
Dan ternyata Reynard berhasil melewati tantangan yang sebelumnya mungkin belum pernah ia bayangkan bisa dilakukan.
Termasuk jurit malam.
Ketika ditanya hal apa yang dulu ia kira tidak bisa dilakukan tetapi ternyata berhasil, jawabannya juga sangat jelas:
“Menikmati jurit malam.”
Pengalaman itu bahkan menjadi salah satu momen yang paling membuatnya bangga.
“Dapat melewati jurit malam,” tulis Reynard.
Bagi orang dewasa, mungkin terdengar sederhana.
Bagi seorang siswa kelas 8, berhasil melewati sesuatu yang sebelumnya terasa menakutkan bisa menjadi pengalaman yang menetap jauh lebih lama daripada sekadar nilai di buku pelajaran.


Dari “Lemah” Menjadi “Kuat”
Ada satu jawaban Reynard yang paling sederhana sekaligus paling kuat.
Ketika diminta melengkapi kalimat:
“Saya datang ke Yon Armed sebagai siswa yang…, tetapi saya pulang sebagai pribadi yang…”
Ia menjawab:
“Lemah → kuat.”
Dua kata.
Tetapi dua kata itu menggambarkan seluruh perjalanan yang ia rasakan.
Datang dengan rasa khawatir.
Menjalani kegiatan yang melelahkan.
Menghadapi tantangan.
Belajar mengikuti aturan.
Mendorong diri untuk tetap bertahan.
Dan akhirnya menyadari bahwa dirinya mampu melewati sesuatu yang sebelumnya mungkin terasa sulit.
Inilah salah satu bentuk pembelajaran yang tidak selalu bisa diberikan melalui buku atau papan tulis.


Disiplin Bukan Sekadar Teori
Setelah mengikuti BINTAL, pemahaman Reynard tentang disiplin juga berubah.
Ketika ditanya apa arti disiplin baginya sekarang, ia menjawab:
“Taat dan patuh pada aturan.”
Namun ketika diminta melengkapi kalimat lain, jawabannya menjadi semakin menarik:
“Saya baru menyadari bahwa disiplin bukan tentang teori, tetapi tentang pelaksanaan.”
Kalimat ini terasa sederhana untuk seorang siswa SMP.
Tetapi justru itulah inti dari pembentukan karakter.
Anak bisa saja memahami apa arti disiplin.
Bisa menjelaskan definisinya.
Bisa menghafalnya.
Namun karakter baru benar-benar terbentuk ketika nilai tersebut dipraktikkan dalam situasi nyata.
Ketika harus bangun dan bergerak sesuai instruksi.
Ketika harus bertanggung jawab terhadap tugas.
Ketika lelah tetapi tetap menyelesaikan kegiatan.
Ketika teman membutuhkan bantuan.
Dan ketika tidak ada pilihan lain selain berkata kepada diri sendiri:
“Saya harus menyelesaikannya.”

Dari Disiplin, Belajar Menjadi Pemimpin
BINTAL di Yon Armed juga meninggalkan satu pelajaran lain bagi Reynard: kepemimpinan.
Ketika ditanya nilai karakter apa yang paling ia pelajari, jawabannya adalah:
“Karakter kepemimpinan.”
Menariknya, ketika ditanya bagaimana kegiatan tersebut membentuk jiwa kepemimpinannya, ia menjawab:
“Dilatih menjadi pemimpin.”
Sebab kepemimpinan tidak selalu dimulai dari berdiri di depan dan memberikan instruksi.
Kepemimpinan bisa dimulai dari hal yang jauh lebih sederhana:
bertanggung jawab terhadap diri sendiri.
Mampu mengikuti aturan.
Tidak mudah menyerah.
Mau bekerja bersama.
Dan berani menghadapi sesuatu yang sebelumnya membuat takut.
Itulah fondasi yang dibutuhkan seorang calon pemimpin.
Mengapa MPlus Membawa Siswa Keluar dari Zona Nyaman?
Bagi SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring, pendidikan tidak berhenti ketika bel pelajaran berbunyi.
Ada kompetensi yang harus dibangun melalui buku dan pembelajaran di kelas.
Tetapi ada pula karakter yang membutuhkan pengalaman.
Keberanian tidak cukup hanya dijelaskan.
Disiplin tidak cukup hanya didefinisikan.
Tanggung jawab tidak cukup hanya dituliskan dalam lembar tugas.
Semua itu perlu dilatih.
Karena itulah kegiatan seperti BINTAL menjadi bagian penting dalam proses pendidikan di MPlus.
Siswa diberi ruang untuk menghadapi tantangan, merasakan konsekuensi dari pilihan, bekerja bersama teman, dan menemukan kemampuan yang mungkin sebelumnya belum mereka sadari.
Bukan untuk membuat anak menjadi keras.
Tetapi untuk membuat mereka tangguh.
Bukan sekadar mampu mengikuti aturan.
Tetapi memahami mengapa disiplin itu penting.
Bukan sekadar menjadi siswa yang berani tampil.
Tetapi menjadi pribadi yang siap memikul tanggung jawab.
“Jangan Takut Menghadapi Sesuatu”
Di akhir wawancara, Reynard mendapat satu kesempatan untuk memberikan pesan kepada adik-adik kelasnya.
Jawabannya pendek:
“Jangan takut menghadapi sesuatu.”
Mungkin justru itulah kalimat yang paling tepat untuk menutup kisahnya.
Sebab BINTAL tidak menghilangkan rasa takut sebelum seseorang menghadapi tantangan.
BINTAL mengajarkan bahwa rasa takut tidak harus menjadi alasan untuk berhenti.
Reynard datang ke Yon Armed dengan jantung berdebar.
Ia pulang dengan sesuatu yang jauh lebih berharga: pengalaman bahwa dirinya ternyata mampu melewati tantangan.
Dan mungkin, beberapa tahun dari sekarang, ketika ia menghadapi tantangan yang jauh lebih besar di bangku SMA, perguruan tinggi, dunia kerja, atau ketika suatu hari dipercaya memimpin orang lain, pengalaman sederhana di masa SMP itu akan kembali teringat.
Bahwa pernah ada satu masa ketika ia merasa takut.
Tetapi ia tetap maju.
Dan ternyata…
ia mampu.
Bagi MPlus, mungkin inilah makna pendidikan yang sesungguhnya: bukan hanya membantu anak menjadi lebih pintar, tetapi memberi mereka cukup pengalaman untuk mengenal dirinya sendiri, cukup keberanian untuk menghadapi tantangan, dan cukup karakter untuk kelak menjadi pemimpin bagi dirinya maupun lingkungannya.
Ikuti media sosial resmi kami:
▶ YouTube: SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring
📷 Instagram: @smp_mplus_gunungpring
📘 Facebook: SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring
🎵 TikTok: @smpmuhammadiyahplusgunungpring
Informasi lengkap SPMB dapat diakses melalui:
https://smpmplus.sch.id/info_spmb/
