SMP MPlus Gunungpring

Bagaimana jika hobi yang awalnya hanya dilakukan untuk bersenang-senang justru menjadi jalan menuju sebuah prestasi?

Bagi Nabila Zakiyah Annisa Wijayanto, ilustrasi bukan sekadar gambar.

Ada cerita yang dituangkan melalui garis. Ada ide yang diterjemahkan menjadi bentuk. Ada proses mencoba, menghapus, memperbaiki, lalu mencoba lagi.

Dari kebiasaan itulah perjalanan Nabila membawa namanya semakin jauh.

Siswa SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring tersebut berhasil meraih Juara 1 FLS3N tingkat Kabupaten Magelang untuk cabang ilustrasi digital. Perjalanannya kemudian berlanjut ke tingkat Provinsi Jawa Tengah dan berhasil menempati Peringkat 7.

Angka 1 dan 7 memang terlihat sederhana.

Tetapi di baliknya ada sebuah proses yang jauh lebih menarik untuk diceritakan.

Ketika Anak Diberi Ruang untuk Serius pada Hal yang Disukainya

Tidak semua anak menunjukkan kemampuan terbaiknya melalui nilai ujian.

Ada yang lebih mudah menjelaskan gagasan melalui gambar.

Ada yang menemukan kepercayaan dirinya ketika memegang alat musik.

Ada yang berkembang ketika berada di lapangan.

Ada pula yang baru terlihat potensinya ketika diberi kesempatan untuk menciptakan sesuatu.

Di sinilah peran lingkungan belajar menjadi penting.

Sekolah bukan hanya tempat untuk memastikan anak memahami pelajaran, tetapi juga ruang untuk mengenali bagaimana seorang anak belajar, berpikir, berkreasi, dan menyelesaikan persoalan dengan caranya sendiri.

Nabila menunjukkan salah satu contoh nyata dari proses tersebut.

Ketertarikannya pada dunia ilustrasi mendapat ruang untuk terus diasah. Bukan berhenti pada “suka menggambar”, tetapi berkembang menjadi kemampuan untuk menuangkan ide secara lebih terarah melalui ilustrasi digital.

Dan ketika sebuah minat bertemu dengan kesempatan untuk berkembang, hasilnya bisa membawa anak melangkah lebih jauh dari yang dibayangkan.

Dari Magelang, Lalu Menguji Diri di Tingkat Jawa Tengah

Menjadi Juara 1 FLS3N Kabupaten Magelang bukanlah garis akhir.

Justru dari sana tantangan berikutnya dimulai.

Nabila harus berhadapan dengan peserta lain dari berbagai daerah di Jawa Tengah yang juga membawa kemampuan dan karya terbaik mereka.

Di tingkat provinsi, situasinya tentu berbeda.

Standar semakin tinggi.

Persaingan semakin ketat.

Dan setiap karya harus mampu menunjukkan gagasan, kreativitas, serta kemampuan teknis pembuatnya.

Nabila akhirnya menempati Peringkat 7 FLS3N tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Bagi sebagian orang, mungkin angka tersebut hanya terlihat sebagai sebuah peringkat.

Namun bagi seorang siswa SMP, pengalaman berkompetisi di tingkat provinsi adalah bagian penting dari proses belajar.

Ia belajar bahwa karya tidak selalu langsung menjadi yang terbaik.

Ia belajar menerima penilaian.

Ia belajar melihat karya orang lain.

Dan yang tidak kalah penting, ia belajar bahwa kemampuan masih bisa terus dikembangkan.

Prestasi yang Berawal dari Kebiasaan Kecil

Ada satu hal yang menarik dari perjalanan anak-anak yang berkembang dalam bidang tertentu.

Biasanya, kemampuan itu tidak muncul secara tiba-tiba.

Ia dibentuk oleh kebiasaan.

Sedikit demi sedikit.

Hari demi hari.

Begitu pula dengan kemampuan ilustrasi.

Sebuah gambar yang terlihat sederhana bagi orang lain bisa saja merupakan hasil dari proses panjang: mencari referensi, memahami komposisi, memilih bentuk, menyusun warna, memperbaiki detail, hingga berani menghapus bagian yang dirasa belum tepat.

Karena itu, prestasi Nabila tidak seharusnya hanya dibaca sebagai “Juara 1 Kabupaten” atau “Peringkat 7 Provinsi”.

Lebih dari itu, pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa ketika seorang anak mendapatkan kesempatan untuk menekuni bidang yang ia sukai, kemampuan tersebut dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius.

Akademik dan Kreativitas Tidak Harus Dipertentangkan

Ada anggapan bahwa sekolah harus memilih antara mengejar akademik atau mengembangkan kreativitas.

Padahal keduanya dapat berjalan beriringan.

Kemampuan menggambar, misalnya, tidak hanya membutuhkan kreativitas.

Seorang ilustrator juga perlu mengamati, menganalisis, memahami proporsi, mengambil keputusan, menyusun konsep, menyelesaikan masalah, dan bekerja dengan ketelitian.

Keterampilan-keterampilan tersebut justru memiliki irisan dengan banyak kemampuan akademik.

Karena itulah budaya belajar yang sehat tidak hanya bertanya:

“Berapa nilai anak hari ini?”

Tetapi juga:

“Apa yang sedang ia bangun?”

“Apa yang membuatnya bersemangat belajar?”

“Di bidang apa ia menunjukkan ketekunan?”

Dan yang paling penting:

“Apakah lingkungan sekolah memberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan itu?”

Nabila dan Pelajaran yang Lebih Besar dari Sebuah Peringkat

Kisah Nabila memberikan satu pesan sederhana.

Potensi anak tidak selalu terlihat dari tempat yang kita duga.

Kadang ia muncul dari selembar kertas.

Kadang dari sebuah sketsa.

Kadang dari rasa penasaran yang terus dipelihara.

Tugas sekolah kemudian bukan memaksa semua anak berjalan dengan cara yang sama, tetapi memberikan fondasi yang kuat sekaligus ruang agar mereka dapat berkembang melalui jalurnya masing-masing.

Ketika seorang anak menemukan bidang yang ia sukai, tugas berikutnya adalah membantu mereka menjadi lebih tekun.

Bukan buru-buru mengejar piala.

Tetapi belajar mencintai proses.

Karena piala bisa disimpan di lemari.

Kemampuan akan ikut dibawa anak ke mana pun ia melangkah.

Selamat, Nabila!

Selamat kepada Nabila Zakiyah Annisa Wijayanto atas pencapaian sebagai Juara 1 FLS3N tingkat Kabupaten Magelang dan Peringkat 7 tingkat Provinsi Jawa Tengah pada bidang ilustrasi digital.

Terima kasih karena telah menunjukkan bahwa karya seorang pelajar bisa berangkat dari sesuatu yang sederhana: kemauan untuk terus mencoba.

Semoga pengalaman ini menjadi salah satu pijakan untuk terus mengeksplorasi dunia ilustrasi, desain, dan kreativitas.

Dan semoga semakin banyak anak di lingkungan MPlus yang berani menemukan bidang yang mereka sukai, kemudian mengubah rasa suka itu menjadi keterampilan.

Karena pendidikan yang baik bukan hanya tentang seberapa banyak anak mampu menghafal.

Tetapi juga tentang seberapa jauh mereka mampu mengembangkan apa yang mereka miliki.

Di situlah prestasi menemukan maknanya.

Bukan sebagai tujuan akhir.

Melainkan sebagai jejak dari proses belajar yang terus berjalan.

Kenali Lebih Dekat Budaya Belajar di MPlus

Kisah Nabila hanyalah salah satu dari banyak perjalanan siswa yang berkembang melalui bidang yang berbeda-beda.

Untuk mengikuti cerita, aktivitas, dan prestasi siswa SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring, kenali lebih dekat melalui:

▶ YouTube: SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring
📷 Instagram: @smp_mplus_gunungpring
📘 Facebook: MPlus
🎵 TikTok: @smpmuhammadiyahplusgunungpring

Informasi SPMB SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring dapat diakses melalui: