SMP MPlus Gunungpring

Mengapa MPlus Mengajak Orang Tua Sekolah Lagi? Pelajaran dari Seminar Parenting dr. Aisah Dahlan?

Ada masa ketika mendidik anak terasa seperti mengajar seseorang yang sudah tidak mau diajar.

Nasihat mulai jarang didengar.

Pertanyaan orang tua dijawab singkat.

Pintu kamar lebih sering tertutup.

Dan kalimat “Terserah” mulai terdengar lebih sering daripada cerita panjang tentang apa yang terjadi di sekolah.

Bagi orang tua yang memiliki anak usia remaja, perubahan seperti ini mungkin terasa dekat.

Lalu muncul pertanyaan yang lebih sulit:

Apakah anak yang berubah, atau cara kita mendampinginya yang memang perlu berubah?

Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu alasan SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring menghadirkan seminar parenting bersama dr. Aisah Dahlan, CMHt., CM.NLP di Grand Ballroom Hotel Atria Magelang.

Bukan sekadar mengundang orang tua untuk datang.

MPlus mengajak mereka untuk belajar kembali.

Karena Anak Berubah, Cara Orang Tua Mendampingi Juga Perlu Bertumbuh

Memasuki usia remaja, anak tidak lagi sama seperti ketika masih duduk di sekolah dasar.

Cara berpikirnya berkembang.

Lingkar pertemanannya berubah.

Kebutuhan untuk dipercaya semakin besar.

Dan hubungan dengan orang tua pun mulai memasuki fase baru.

Di titik inilah pendidikan tidak cukup hanya membicarakan bagaimana guru mengajar anak di sekolah.

Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting:

Bagaimana orang tua memahami anak ketika ia pulang ke rumah?

Seminar parenting yang menghadirkan dr. Aisah Dahlan menjadi ruang untuk membicarakan hal tersebut secara lebih dekat.

Dengan pendekatan neurosains dan nilai-nilai Islam, para orang tua diajak melihat perilaku remaja dari sudut pandang yang berbeda.

Anak yang lebih sensitif bukan serta-merta berarti anak yang sulit.

Anak yang mulai membutuhkan ruang bukan berarti ia tidak membutuhkan orang tua.

Justru pada fase inilah kehadiran orang tua perlu berubah bentuk.

Dari banyak memberi instruksi menjadi lebih banyak memahami.

Dari sekadar mengawasi menjadi mendampingi.

Ketika Ilmu Parenting Masuk ke Ruang Keluarga

Ada alasan mengapa MPlus membawa pembelajaran seperti ini keluar dari ruang kelas.

Sebab pendidikan anak tidak berhenti ketika bel sekolah berbunyi.

Anak belajar di kelas.

Anak belajar ketika berinteraksi dengan teman.

Anak belajar melalui kegiatan keagamaan, organisasi, olahraga, seni, dan berbagai pengalaman di sekolah.

Tetapi setelah itu, ia pulang ke rumah.

Di sanalah nilai-nilai yang dipelajari kembali diuji dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, hubungan sekolah dan orang tua tidak seharusnya berhenti pada laporan hasil belajar, pembayaran administrasi, atau pertemuan wali murid.

Ada ruang yang jauh lebih penting: belajar bersama tentang anak.

Dan inilah yang ingin dibangun MPlus.

Bukan hanya memberi tahu orang tua tentang perkembangan anak, tetapi ikut memperkaya bekal orang tua dalam mendampingi perjalanan tersebut.

Dukungan yang Membuat Gerakan Ini Lebih Luas

Gagasan tentang pentingnya belajar menjadi orang tua tidak berhenti di lingkungan MPlus.

Semangat yang sama juga mendapat dukungan dari Ibu Dian Grengseng Pamuji, yang memiliki perhatian pada gerakan literasi dan penguatan keluarga di Kabupaten Magelang.

Dukungan beliau menjadi bagian penting dalam terselenggaranya kegiatan ini. Bukan hanya dalam konteks kehadiran di sebuah acara, tetapi juga dalam upaya mengajak lebih banyak keluarga Magelang untuk melihat parenting sebagai bagian dari pendidikan.

Beliau turut mengajak masyarakat untuk hadir dan belajar bersama. Bahkan, di tengah kesibukannya, beliau menyempatkan hadir dan mengikuti rangkaian seminar hingga selesai.

Ada pesan yang terasa kuat dari kehadiran tersebut.

Bahwa pendidikan keluarga bukan urusan satu sekolah.

Bukan pula hanya urusan orang tua yang sedang memiliki masalah dengan anaknya.

Ia adalah bagian dari pekerjaan bersama untuk menyiapkan generasi yang akan tumbuh dan hidup di tengah masyarakat.

Ketika sekolah mengambil inisiatif, orang tua bersedia belajar, dan tokoh masyarakat ikut membuka ruang bagi gerakan edukasi seperti ini, manfaatnya tidak lagi berhenti pada keluarga MPlus.

Ia bisa bergerak lebih jauh.

Ke keluarga-keluarga lain di Magelang.

Dan di situlah sebuah kegiatan parenting mulai memiliki makna yang lebih besar.

Dari Ballroom Atria, Pembicaraan Kembali ke Rumah

Seminar parenting sering kali selesai ketika pembicara turun dari panggung.

Namun pendidikan keluarga justru dimulai setelah peserta meninggalkan ruangan.

Mungkin malam itu ada orang tua yang pulang dengan satu kesadaran baru.

Bahwa tidak semua sikap anak harus segera dibalas dengan nasihat.

Bahwa mendengarkan terkadang lebih dibutuhkan daripada menjelaskan.

Bahwa memahami proses tumbuh kembang anak dapat mengubah cara orang tua merespons perilakunya.

Di sinilah sebuah seminar menjadi lebih dari sekadar agenda.

Ia menjadi bekal yang dibawa pulang.

Dan mungkin, perubahan kecil seperti percakapan yang lebih tenang di meja makan justru jauh lebih berarti daripada apa pun yang terjadi di atas panggung.

MPlus dan Cara Pandang tentang Pendidikan Keluarga

MPlus memiliki cara pandang bahwa sekolah bukan tempat yang berdiri sendiri.

Ada anak di tengahnya.

Ada guru yang mendampingi.

Ada orang tua yang menjadi lingkungan pendidikan pertama dan terpanjang bagi anak.

Ketiganya saling berkaitan.

Karena itu, membangun pendidikan yang baik berarti juga membangun komunikasi yang sehat antara sekolah dan keluarga.

Inilah mengapa kegiatan parenting menjadi bagian penting dari ekosistem pendidikan di MPlus.

Orang tua tidak ditempatkan hanya sebagai penerima laporan perkembangan anak.

Mereka diajak menjadi bagian dari proses.

Belajar bersama.

Berdiskusi.

Mengenali perubahan anak.

Dan memahami bahwa mendampingi remaja membutuhkan pengetahuan yang terus diperbarui.

Bukan Hanya Anak yang Perlu Bertumbuh

Ada satu gagasan sederhana yang mungkin menjadi inti dari seluruh kegiatan ini:

anak bertumbuh, maka orang tua juga perlu bertumbuh.

Anak belajar menghadapi dunia yang berubah cepat.

Orang tua pun perlu belajar memahami dunia yang sedang dihadapi anak-anaknya.

Teknologi berubah.

Pola komunikasi berubah.

Cara anak mendapatkan informasi berubah.

Relasi sosial berubah.

Maka pendekatan pengasuhan juga tidak bisa berhenti pada cara-cara yang berhasil ketika orang tua masih seusia anaknya.

Di sinilah pendidikan orang tua menjadi relevan.

Bukan karena orang tua gagal.

Justru karena menjadi orang tua adalah peran yang terus berkembang.

Tidak ada titik ketika seseorang benar-benar selesai belajar menjadi orang tua.

Ketika Sekolah Memilih Berjalan Bersama Keluarga

Seminar bersama dr. Aisah Dahlan hanyalah salah satu bentuk dari upaya tersebut.

Di balik sebuah acara parenting ada sebuah keyakinan yang lebih besar:

pendidikan anak akan lebih kuat ketika sekolah dan keluarga tidak berjalan sendiri-sendiri.

Sekolah menguatkan kebiasaan baik.

Rumah melanjutkannya.

Sekolah mengenali perkembangan anak.

Orang tua memahami dinamika yang terjadi di rumah.

Sekolah memberi ruang bagi anak untuk belajar.

Keluarga menjadi tempat anak kembali, beristirahat, bercerita, dan menemukan dukungan.

Tidak selalu mudah.

Tetapi justru karena itulah kolaborasi diperlukan.

Mendidik Anak, Sambil Terus Belajar Menjadi Orang Tua

Pada akhirnya, seminar di Ballroom Atria bukan hanya tentang satu malam bersama narasumber nasional.

Lebih dari itu, ia menjadi pengingat bahwa pendidikan anak adalah perjalanan panjang.

Anak tidak hanya membutuhkan sekolah yang mengajarinya ilmu.

Ia juga membutuhkan orang dewasa di sekitarnya yang mau terus belajar memahami dirinya.

Mungkin inilah alasan MPlus memilih untuk “menyekolahkan” orang tua juga.

Karena ketika anak memasuki fase baru dalam hidupnya, orang tua tidak cukup hanya bertanya:

“Apa yang harus dilakukan anak saya?”

Ada pertanyaan yang tak kalah penting:

“Apa yang perlu saya pelajari agar bisa mendampingi anak saya dengan lebih baik?”

Pertanyaan kedua itulah yang membuka ruang untuk tumbuh bersama.

Dan bagi MPlus, pendidikan tidak berhenti pada anak yang datang ke sekolah setiap pagi.

Pendidikan juga berlangsung ketika sekolah dan keluarga duduk bersama, belajar, lalu pulang membawa pemahaman baru ke rumah.

Itulah ekosistem pendidikan yang ingin terus dibangun.

Bukan hanya mempersiapkan anak menghadapi masa depannya, tetapi juga memperkuat orang-orang yang akan berjalan bersamanya sepanjang perjalanan.

Kenali Lebih Dekat MPlus

erjalanan pendidikan di SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring tidak hanya berlangsung melalui pembelajaran di kelas.

Ada akademik, pembiasaan karakter, pengembangan minat dan bakat, kegiatan keislaman, pengalaman organisasi, hingga kolaborasi bersama keluarga.

Karena bagi MPlus, mendidik anak berarti juga membangun lingkungan yang mendukungnya untuk bertumbuh.