Di ruang kelas SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring, suasana akademik yang biasanya hanya kita temui di perguruan tinggi hadir dalam skala mini. Siswa-siswi kelas IX berdiri di depan guru penguji dan orang tua mereka, mempresentasikan hasil riset tematik lintas mata pelajaran. Sekilas, atmosfernya menyerupai sidang disertasi, serius, kritis, sekaligus penuh harap.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Ujian Satuan Pendidikan (USP) Berbasis Riset Kolaboratif, yang dahulu dikenal sebagai Ujian Praktik. Dilaksanakan pada 11–16 Februari 2026, USP dirancang secara tematik dengan mengintegrasikan kompetensi dari Matematika, Bahasa Indonesia, Pendidikan Pancasila, IPS, IPA, Bahasa Inggris, dan Informatika.
Model penilaian ini menempatkan siswa sebagai peneliti muda. Mereka tidak hanya mengerjakan tugas, tetapi juga merancang, mengolah data, menyusun laporan, dan mempertahankan temuan mereka secara lisan. Di sinilah pendidikan bergerak dari sekadar transfer pengetahuan menuju transformasi cara berpikir. Riset bukan monopoli mahasiswa dan dosen. Ketika siswa SMP diperkenalkan pada proses ilmiah terkait bertanya, mengamati, menganalisis, dan menyimpulkan, sebenarnya mereka sedang dilatih menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Dalam sesi USP, guru bertindak sebagai penguji akademik, sementara orang tua hadir sebagai saksi proses belajar anak. Siswa belajar mengelola rasa gugup, menyusun argumen, dan menjawab pertanyaan kritis. Di balik presentasi sederhana itu, sesungguhnya sedang tumbuh nalar kritis, keberanian akademik, dan literasi ilmiah.
Kehadiran wali murid dalam ujian ini menciptakan ruang dialog antara sekolah dan keluarga. Orang tua tidak hanya melihat nilai akhir, tetapi menyaksikan proses berpikir anak secara langsung. Pendidikan pun tidak lagi berhenti di rapor, tetapi hidup dalam percakapan, refleksi, dan apresiasi bersama. Sekolah, guru, orang tua, dan siswa menjadi ekosistem belajar yang saling menguatkan.
Karakter juara tidak lahir dalam satu lomba atau satu ujian. Ia ditempa melalui proses panjang yaitu belajar jujur dalam riset, tekun dalam proses, dan berani dalam presentasi. USP berbasis riset menjadi salah satu medium untuk menanam karakter tersebut sejak dini. Hal tersebut sesuai dengan Mentalis juara yaitu disiplin dalam belajar dan berlatih, patuh pada guru/pelatih, bekerja keras dan bertanding sampai detik terakhir, konsisten menjaga ambisi dan stamina, dan sportif dan tidak meremehkan. Ketika siswa berani mempertanggungjawabkan gagasan mereka, mereka sedang belajar menjadi warga akademik yang beretika. Inilah fondasi generasi Indonesia yang kritis, kreatif, dan beradab.
Pengalaman USP di SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis riset bukan utopia. Ia dapat diterapkan sejak sekolah menengah dengan desain tematik dan kolaboratif. Jika sekolah-sekolah berani menggeser paradigma evaluasi dari hafalan menuju riset dan presentasi ilmiah, maka pendidikan kita tidak hanya mencetak lulusan, tetapi melahirkan pemikir.
Di ruang kelas sederhana itu, sesungguhnya sedang disemai benih akademisi masa depan.
IIF