Dari ruang kelas menuju Jakarta. Dari ide menjadi karya. Dari rasa gugup menjadi keberanian. Inilah cerita Eduventure MPlus di Indonesia Inventors Day 2026.
Jakarta memang menjadi tujuan perjalanan.
Namun bagi 126 siswa SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring (MPlus), perjalanan menuju Indonesia Inventors Day (IID) 2026 sebenarnya telah dimulai jauh sebelum mereka berangkat.
Ia dimulai ketika sebuah ide mulai dibicarakan.
Kemudian dikembangkan bersama pembimbing.
Dicoba.
Tidak selalu berhasil.
Diperbaiki.
Dilakukan lagi.
Dipresentasikan.
Dan akhirnya dibawa keluar dari ruang kelas untuk berhadapan dengan dunia nyata.
Sejak kelas VII semester genap hingga kelas VIII semester gasal, para siswa menjalani proses panjang untuk mempersiapkan karya yang mereka bawa ke Indonesia Inventors Day 2026.
Sebanyak 126 siswa mengikuti perjalanan tersebut.
Hasilnya, 26 tim berhasil meraih medali: 6 Gold, 18 Silver, dan 2 Bronze dan Special Award Medal from Rumania.
Sebuah capaian yang tentu patut disyukuri.
Tetapi jika cerita ini hanya berhenti pada jumlah medali, ada bagian yang jauh lebih penting yang justru akan terlewat.
Sebelum Ada Medali, Ada Proses
Di balik satu medali, ada banyak hal yang tidak terlihat di panggung.
Ada siswa yang belajar bekerja sama dengan teman satu tim.
Ada yang harus belajar memahami karya yang mereka buat sendiri.
Ada yang berkali-kali memperbaiki hasil percobaan.
Ada yang berlatih menjelaskan gagasan agar dapat dipahami orang lain.
Ada yang belajar bahasa Inggris karena karya mereka harus dipresentasikan di hadapan juri.
Dan ada yang harus berhadapan dengan satu hal yang sangat manusiawi:
rasa gugup.
Bagi Lintang Kirana G, misalnya, salah satu pengalaman paling berkesan justru terjadi sebelum sampai di panggung kompetisi.
Pada awal proses, chemistry dalam tim belum terbentuk. Sebagai ketua tim, Lintang kemudian belajar mengambil peran untuk membangun kekompakan anggota tim.
Di situlah kompetisi berubah menjadi pengalaman kepemimpinan.
Ia tidak hanya belajar bagaimana mempresentasikan sebuah karya, tetapi juga bagaimana mengajak orang lain bekerja bersama menuju tujuan yang sama.
Bagi MPlus, pengalaman semacam ini adalah bagian penting dari pendidikan.
Karena kemampuan memimpin tidak selalu lahir dari teori tentang kepemimpinan.
Kadang, ia tumbuh ketika seorang anak benar-benar diberi tanggung jawab untuk memimpin.
Ketika Gugup Tidak Lagi Menjadi Alasan untuk Mundur
Ihsan Pranaja Hutama datang dengan cerita yang berbeda.
Sebelum mengikuti IID 2026, ia mengaku merasa takut dan gugup, terutama ketika harus melakukan presentasi di hadapan juri.
Namun sebuah situasi justru memberinya kesempatan untuk melampaui rasa takut tersebut.
Ketika salah satu teman satu tim sedang melaksanakan salat, Ihsan harus melakukan presentasi seorang diri.
Situasi yang sebelumnya mungkin terasa menegangkan akhirnya menjadi kesempatan untuk mencoba.
Dari pengalaman itu, ia merasa menjadi lebih berani, lebih mampu bekerja sama, dan lebih siap menghadapi rasa gugup.
Tidak ada angka pada lembar hasil lomba yang bisa sepenuhnya menggambarkan perubahan tersebut.
Namun justru di situlah salah satu makna penting sebuah pengalaman belajar.
Anak tidak selalu belajar karena berhasil. Kadang, anak belajar karena berani mencoba ketika dirinya belum merasa siap.
Presentasi Pertama Tidak Sempurna. Lalu Apa?
Hafizh Sava Bramantya mendapatkan pelajaran lain.
Ia harus memahami dan mengembangkan karya sekaligus mempelajari materi yang berkaitan dengan karya tersebut.
Tantangan berikutnya adalah mempresentasikannya dalam bahasa Inggris.
Pada akhirnya, Hafizh berhasil menjelaskan karya dan menjawab pertanyaan dari juri.
Namun ada satu pengalaman yang justru menjadi pelajaran penting baginya: presentasi pertama yang menurutnya belum berjalan dengan baik.
Ia kemudian mendapatkan kesempatan untuk memperbaikinya.
Dari sana, ia memahami bahwa kesalahan tidak harus menjadi akhir.
“Walau presentasi pertama kurang bagus, jangan sia-siakan kesempatan presentasi yang kedua, karena dari kesalahan yang kita buat bisa menjadi pelajaran bagi kita ke depannya.”
Sederhana.
Tetapi itulah mentalitas belajar yang ingin dibangun.
Bukan takut salah, melainkan mampu membaca kesalahan, memperbaikinya, lalu mencoba lagi.
Karya yang Membuka Jalan untuk Mengenali Potensi
Pengalaman Helga Maheswara Bhara Adjie Santoso membawa cerita pada sisi lain.
Ia belajar memahami cara kerja robot sekaligus mendalami ide yang dikembangkan dalam karyanya.
Proses tersebut tidak berhenti ketika karya selesai.
Di Jakarta, ruang belajarnya justru semakin luas.
Ia bertemu peserta dari berbagai daerah, melihat karya lain, bertukar wawasan, dan mendapatkan pengalaman berinteraksi dengan juri.
Dari sana, ketertarikannya terhadap penelitian dan inovasi semakin tumbuh.
Pengalaman Reynard Dzakiyy Muazzam menghadirkan cerita lain.
Dalam proses persiapan, ia menghadapi persoalan ketika bahan yang digunakan mudah rusak. Karya harus dicoba dan diperbaiki.
Ketika akhirnya harus berbicara di hadapan juri, rasa gugup pun masih ada.
Namun ia tetap mencoba.
Bahkan ketika merasa bicaranya belum sempurna.
Dan justru pengalaman itulah yang penting.
Anak tidak harus menunggu sempurna untuk mulai berani.
Kadang, potensi baru terlihat setelah anak mendapatkan kesempatan untuk mencoba sesuatu yang sebelumnya belum pernah ia lakukan.
Inilah Mengapa MPlus Membawa Belajar Keluar dari Kelas
Di MPlus Gunungpring, pengalaman seperti IID 2026 ditempatkan sebagai bagian dari Eduventure MPlus.
Eduventure bukan sekadar perjalanan ke suatu tempat.
Ia adalah cara menghadirkan pengalaman belajar di luar situasi kelas yang biasa.
Anak bertemu persoalan nyata.
Bertemu orang baru.
Melihat karya yang berbeda.
Berkomunikasi.
Bekerja sama.
Mempresentasikan gagasan.
Menghadapi rasa gugup.
Mengalami kesalahan.
Dan belajar mengambil keputusan.
Dalam perjalanan IID 2026, Jakarta menjadi lebih dari sekadar lokasi kompetisi.
Jakarta menjadi ruang belajar yang lebih luas.
Sebagian siswa mendapatkan teman baru.
Sebagian belajar dari karya peserta lain.
Sebagian belajar menghadapi juri.
Sebagian belajar berbicara dalam bahasa Inggris.
Sebagian belajar memimpin.
Dan semuanya membawa pulang pengalaman yang tidak bisa diperoleh hanya dengan membaca materi dari buku.
Karena pendidikan bukan hanya tentang apa yang diketahui anak.
Pendidikan juga tentang apa yang dialami anak dan bagaimana pengalaman itu membentuk dirinya.
26 Medali, Tetapi Ada 126 Perjalanan
Dari seluruh proses tersebut, 26 tim MPlus berhasil meraih medali Indonesia Inventors Day 2026.
SMP MPLUS GUNUNGPRING di Event Indonesia Inventors Day 2026.
Gold Medal — 6 tim:
Mahes, Abe, Raya, Nida, Rayhan, dan Tama.
Silver Medal — 18 tim:
Ziggy, Alzam, Hafizh, Wafy, Fadhl, Arkan, Abel, Arsyad, Caca, Zahwan, Zalika, Anin, Athalia, Lintang, Kanaya, Selma, Luthfi, dan Athaya.
Bronze Medal — 2 tim:
Nevlin dan Yuki.
SPECIAL AWARD FROM RUMANIA
Capaian tersebut tentu menjadi bagian penting dari perjalanan mereka.
Namun ada satu hal yang juga layak dicatat:
26 tim meraih medali, tetapi 126 siswa menjalani perjalanan belajar.
Masing-masing membawa pengalaman yang berbeda.
Ada yang belajar memimpin.
Ada yang belajar bekerja sama.
Ada yang belajar berbicara.
Ada yang belajar menggunakan bahasa Inggris.
Ada yang belajar menghadapi kesalahan.
Ada yang menemukan ketertarikan baru pada penelitian, teknologi, atau inovasi.
Dan mungkin ada pula yang baru pertama kali menyadari bahwa dirinya mampu melakukan sesuatu yang sebelumnya terasa sulit.
Itulah nilai yang tidak selalu tertulis di sertifikat.
Prestasi Adalah Hasil. Proseslah yang Menumbuhkan.
MPlus Gunungpring percaya bahwa pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan anak yang mampu menjawab soal.
Anak juga perlu mendapatkan kesempatan untuk mengalami.
Karena dari pengalaman, mereka belajar menghadapi tantangan.
Dari tantangan, mereka belajar berproses.
Dari proses, mereka mulai mengenali kekuatan dan kekurangannya.
Dan dari sana, kepercayaan diri tumbuh bukan karena selalu berhasil, tetapi karena mereka tahu bahwa ketika menghadapi kesulitan, mereka mampu mencoba lagi.
Inilah alasan mengapa prestasi di MPlus tidak ditempatkan sebagai titik akhir.
Prestasi adalah hasil. Proseslah yang menumbuhkan anak.
Indonesia Inventors Day 2026 hanyalah salah satu perjalanan.
Di perjalanan berikutnya mungkin bentuk tantangannya akan berbeda.
Bisa melalui penelitian.
Bisa melalui teknologi.
Bisa melalui bahasa.
Bisa melalui seni.
Bisa melalui kepemimpinan.
Atau melalui pengalaman lain yang membantu anak mengenali dirinya.
Sebab tugas sekolah bukan sekadar membawa anak menuju sebuah panggung kompetisi.
Tugas pendidikan adalah memberikan pengalaman yang cukup bermakna sehingga ketika suatu hari anak berhadapan dengan dunia yang jauh lebih besar, ia memiliki bekal untuk berkata:
“Saya belum tahu apakah saya bisa. Tapi saya berani mencoba.”
Dan mungkin, di situlah makna sebenarnya dari sebuah Eduventure.
Bukan sekadar pergi lebih jauh.
Tetapi pulang dengan pengalaman yang membuat anak menjadi lebih siap menghadapi dunia.
Mengenal Lebih Dekat MPlus
Di MPlus, kegiatan dan prestasi siswa menjadi bagian dari pengalaman belajar yang berlangsung berdampingan dengan pembelajaran akademik, pengembangan karakter, serta berbagai aktivitas pengembangan minat dan bakat.
Karena pendidikan tidak selalu terjadi di balik meja kelas.
Kadang, ia hadir ketika anak harus berdiri di garis pertandingan.
Ketika harus mengelola rasa tegang.
Ketika belajar menerima hasil.
Dan ketika mencoba lagi.
Kenali lebih dekat aktivitas dan budaya belajar SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring melalui:
YouTube: SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring
Instagram: @smp_mplus_gunungpring
Facebook: MPlus (SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring)
TikTok: @smpmuhammadiyahplusgunungpring
Informasi SPMB:
https://smpmplus.sch.id/info_spmb/
MPlus — Leading and Inspiring
Sekolah Para Juara | Growing Champions, Inside & Outside the Classroom
