Ada yang mengulang hafalan berkali-kali. Ada yang berlatih kaligrafi hingga delapan jam. Ada yang harus mengendalikan gugup sebelum tampil. Dan ada pula yang belajar membawa nama sekolah bersama teman satu tim. Di balik prestasi MAPSI 2026, ada proses pendidikan yang jauh lebih besar daripada sekadar piala.
Pernahkah Ayah Bunda melihat anak begitu bersemangat menekuni sesuatu, tetapi di lain waktu merasa lelah, ragu, atau ingin menyerah?
Itulah bagian dari proses belajar yang sering kali tidak terlihat ketika kita hanya melihat hasil akhirnya.
Di panggung perlombaan, yang tampak mungkin hanya penampilan beberapa menit, jawaban yang tepat, atau sebuah karya yang selesai. Padahal, di belakangnya ada latihan yang diulang, koreksi yang harus diterima, rasa gugup yang perlu dikelola, serta dukungan orang-orang yang membantu anak bertahan.
Cerita itu hadir dalam perjalanan siswa SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring (MPlus) pada ajang MAPSI 2026 tingkat Kabupaten Magelang.
Nisrinaa Luthfiyah meraih Juara 1 Pidato Putri. Raihaanun Hafiza Purwono meraih Juara 1 Tahfidz Putri. Muhammad Afkar Kamil meraih Juara 2 Kaligrafi Putra, sementara Selma Fadhilah Carissa meraih Juara 3 Kaligrafi Putri. Kenneth Adnan Savero membawa pulang Juara 3 Tilawah Putra, dan Haikal Fatih Alfadila meraih Juara 3 Adzan.
Prestasi juga diraih tim Cerdas Cermat Islami yang terdiri atas Aufa, Caca, dan Kenzie, dengan predikat Juara Harapan 2.
Sembilan siswa ini datang dari bidang yang berbeda. Namun, ada benang merah yang menyatukan cerita mereka: kemampuan tidak cukup hanya dimiliki. Kemampuan perlu diasah, keberanian perlu dilatih, dan kebiasaan baik perlu dibangun melalui proses yang berkelanjutan.
.jpeg)
Juara Pidato Pun Masih Bisa Deg-degan
Sejak TK, Nisrinaa Luthfiyah sudah mengenal kegiatan berpidato. Kini, siswi kelas VIII C itu berhasil meraih Juara 1 Pidato Putri MAPSI 2026.
Apakah pengalaman bertahun-tahun membuatnya tidak lagi gugup ketika harus berdiri di hadapan juri?
Ternyata tidak.
Nisrinaa mengaku tetap merasakan deg-degan menjelang tampil. Salah satu caranya mengatasi rasa tersebut adalah menganggap penampilannya seperti latihan biasa, sambil berusaha mengatur kegugupannya.
Persiapan juga tidak berhenti pada menghafal naskah. Bersama pembimbing, Nisrinaa berlatih memperbaiki intonasi agar suaranya lebih bulat dan pesan yang disampaikan terdengar dengan baik.
Ada pesan penting dari proses ini. Keberanian bukan berarti seseorang tidak pernah merasa takut. Keberanian tumbuh ketika seseorang terus belajar menghadapi rasa takut tersebut.
Dalam pidatonya, Nisrinaa mengangkat tema Implementasi Moderasi Beragama dalam Kehidupan Berbangsa. Ia ingin menyampaikan bahwa Islam semestinya hadir sebagai agama yang membawa kenyamanan, kedamaian, dan sikap saling menghargai.
Ketika ditanya apa yang ingin ia katakan kepada teman-teman yang masih takut berbicara di depan kelas, jawabannya sederhana:
percaya diri dan jangan terlalu memikirkan omongan orang lain.
Nasihat itu juga berlaku di luar panggung lomba. Berani bertanya ketika belum paham, menyampaikan pendapat dalam diskusi, atau mencoba hal baru meski belum yakin sepenuhnya merupakan bagian dari proses belajar yang perlu dibiasakan.
.jpeg)
Menghafal Al-Qur’an: Bukan Sekali Baca, Lalu Bisa
Berbeda dengan Nisrinaa yang melatih keberanian berbicara, Raihaanun Hafiza Purwono belajar menjaga sesuatu yang membutuhkan konsistensi: hafalan Al-Qur’an.
Siswi kelas VII E ini meraih Juara 1 Tahfidz Putri. Perjalanannya menghafal Al-Qur’an dimulai sejak TK besar.
Salah satu pengalaman yang memotivasinya terjadi ketika ia duduk di kelas II SD. Saat itu, Raihaanun memperoleh sertifikat karena hafalannya melampaui target pencapaian. Pengalaman tersebut mendorongnya untuk menghafal lebih banyak lagi.
Namun, motivasi awal saja tidak cukup. Hafalan perlu dijaga.
Raihaanun memilih waktu setelah salat Magrib sebagai salah satu waktu terbaik untuk menghafal. Ia membaca ayat sekitar lima hingga sepuluh kali, kemudian menutup mushaf dan mencoba menghafalnya tanpa melihat teks. Jika lupa, ia kembali membuka Al-Qur’an dan mengulang bacaannya.
Sederhana, tetapi membutuhkan ketekunan.
Saat menghadapi penguji, Raihaanun tetap merasakan kegugupan. Ia sempat khawatir tidak mampu menjawab dan merasa sangat tegang. Seiring berjalannya ujian, ia mulai lebih terbiasa.
Pengalaman ini mengingatkan kita bahwa anak yang tekun pun tetap bisa merasa takut. Mereka tidak harus selalu percaya diri sejak awal. Yang dibutuhkan adalah kesempatan untuk belajar, berlatih, dan menghadapi tantangan secara bertahap.
Pesan Raihaanun untuk teman-teman yang merasa menghafal Al-Qur’an itu berat pun terasa dekat dengan keseharian anak:
“Menghafal memang lelah… tapi lelahnya berpahala, kan?”
Ada proses yang perlu dijalani, ada pengulangan yang perlu dilakukan, dan ada kesabaran yang perlu dijaga. Nilai-nilai inilah yang membuat perjalanan menghafal tidak hanya berkaitan dengan jumlah hafalan, tetapi juga dengan pembentukan kebiasaan.
.jpeg)

Delapan Jam di Balik Karya Kaligrafi
Kalau ada yang mengira kaligrafi hanya soal kemampuan menulis indah, kisah Muhammad Afkar Kamil dan Selma Fadhilah Carissa memperlihatkan bahwa prosesnya jauh lebih kompleks.
Afkar, siswa kelas VIII B, meraih Juara 2 Kaligrafi Putra. Menariknya, ia mengaku awalnya mengikuti seleksi kaligrafi hanya karena iseng.
Dari percobaan sederhana itu, ia kemudian menjalani proses yang menuntut ketelitian. Sebuah karya kaligrafi melewati beberapa tahapan, mulai dari sketsa, ornamen, pewarnaan, penulisan khat, hingga penyelesaian akhir.
Bagian penulisan khat menjadi salah satu tahap yang paling menguras waktu dan kesabaran karena harus mengikuti kaidah yang benar.
Afkar juga pernah merasa tidak percaya diri ketika berlatih. Dukungan teman dan guru membantunya kembali yakin untuk menyelesaikan proses tersebut.
Sementara itu, Selma Fadhilah Carissa, siswi kelas VIII B yang meraih Juara 3 Kaligrafi Putri, mulai serius menekuni kaligrafi sejak kelas VI SD.
Menjelang MAPSI 2026, ia berlatih bersama Pak Rino. Dalam satu sesi, Selma menghabiskan sekitar delapan jam untuk berlatih secara menyeluruh, mulai dari mengecat, menulis khat, hingga mengerjakan mozaik.
Karya Selma memuat Surah Ali Imran ayat 102 tentang perintah untuk bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya.
Bayangkan berapa banyak perhatian yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah karya yang memadukan tulisan, warna, dan ornamen. Kesalahan kecil pun perlu diperhatikan agar hasil akhirnya tetap sesuai dengan kaidah dan rancangan.
Dari proses itu, Afkar dan Selma belajar bahwa karya yang baik tidak selalu bisa diselesaikan dengan terburu-buru. Ada bagian yang perlu diperiksa kembali, ada kesalahan yang perlu diperbaiki, dan ada pekerjaan yang menuntut kesabaran hingga selesai.
Lebih menarik lagi, Afkar merasakan bahwa ketelitian yang ia pelajari melalui kaligrafi ikut terbawa ke pelajaran sekolah dan lingkungan sekitar.
Di sinilah sebuah kegiatan pengembangan bakat dapat memberi manfaat yang lebih luas. Anak bukan hanya belajar menghasilkan karya, tetapi juga membangun sikap yang dapat digunakan dalam berbagai situasi.
.jpeg)

Suara Merdu Itu Punya Perjalanan Panjang
Kenneth Adnan Savero, siswa kelas IX, meraih Juara 3 Tilawah Putra MAPSI 2026. Ia mulai belajar tilawah sejak kelas II SD dan mengenal kecintaan pada seni membaca Al-Qur’an melalui guru serta orang tuanya.
Untuk menjaga kemampuannya, Kenneth berlatih dua kali sehari, pada pagi dan malam ketika berada di rumah, atau saat memiliki waktu luang.
Tilawah bukan hanya tentang suara yang merdu. Ada tajwid yang perlu dijaga, nagham yang perlu dilatih, dan ketenangan yang diperlukan ketika membaca di hadapan orang lain.
Kenneth pun tetap merasakan ketegangan saat menghadapi juri. Ia berusaha menenangkan diri dengan keyakinan bahwa Allah akan menolong hamba-Nya.
Dukungan keluarga, terutama sang ibu, menjadi bagian penting dalam perjalanannya.
Kenneth menyebut ibunya sebagai sosok yang selalu ada, baik ketika keadaan terasa mudah maupun ketika ia menghadapi kesulitan.
Ketika ditanya apa yang ingin disampaikan kepada teman-teman yang ingin belajar tilawah tetapi merasa suaranya biasa saja, Kenneth mengingatkan bahwa qari dan qariah yang terdengar merdu telah menjalani latihan bertahun-tahun, termasuk melewati masa-masa sulit.
Dalam catatan pembimbingnya, ada satu hal yang membuat Kenneth terus bertahan:
keinginannya untuk menjadi lebih baik daripada hari sebelumnya.
Bukan semata-mata membandingkan diri dengan orang lain, tetapi terus memperbaiki kemampuan diri sendiri.
Di MPlus, kegiatan mengaji pagi dan ekstrakurikuler menjadi bagian dari ruang pembinaan yang membantu siswa mengembangkan kemampuan membaca Al-Qur’an. Proses Kenneth memperlihatkan bahwa kemampuan yang terus diasah, kebiasaan yang dijaga, dan dukungan dari lingkungan dapat berjalan beriringan.
Belajar Azan, Sekaligus Melawan Rasa Malas
Haikal Fatih Alfadila, siswa kelas IX A, meraih Juara 3 Adzan. Ia telah belajar mengumandangkan azan sejak kelas I SD.
Bagi Haikal, azan memiliki makna yang mendalam. Ia ingin belajar karena meyakini bahwa azan dapat menjadi jalan untuk mengangkat derajat orang tuanya.
Bagian yang paling sulit baginya adalah menguasai irama. Untuk melatihnya, Haikal membiasakan diri mendengarkan dan menirukan azan setiap hari, biasanya setelah salat Subuh.
Ketika nomor urutnya dipanggil dalam perlombaan, ia sempat gugup. Ia kemudian membaca basmalah untuk membantu menenangkan hati sebelum tampil.
Namun, ada satu bagian dari proses Haikal yang tidak terlihat oleh juri maupun penonton. Pembimbingnya mencatat bahwa Haikal juga harus melawan rasa malas dan lelah selama latihan.
Inilah tantangan yang mungkin lebih akrab bagi banyak anak daripada panggung perlombaan itu sendiri.
Ada hari ketika latihan terasa menyenangkan. Ada pula hari ketika tugas sekolah menumpuk, tubuh lelah, atau keinginan untuk berhenti lebih besar daripada semangat untuk melanjutkan.
Pada saat seperti itulah disiplin mulai terbentuk. Anak belajar menjalankan tanggung jawab, bahkan ketika tidak selalu merasa bersemangat.
Haikal berpesan kepada adik kelas yang ingin belajar azan tetapi masih malu dengan suaranya:
cobalah terlebih dahulu. Ketika sudah terbiasa, rasa percaya diri akan tumbuh.
Terkadang, anak tidak perlu menunggu sampai merasa benar-benar siap untuk memulai. Mereka hanya perlu kesempatan pertama, latihan yang terarah, dan pendampingan untuk terus memperbaiki diri.


Tiga Siswa, Satu Tim, dan Tantangan Menjawab dengan Cermat
Tidak semua prestasi MAPSI diraih melalui penampilan individu. Aufa, Caca, dan Kenzie menunjukkan bahwa ada pula capaian yang lahir melalui kerja bersama.
Ketiganya meraih Juara Harapan 2 Cerdas Cermat Islami MAPSI 2026.
Dalam kompetisi seperti ini, peserta tidak hanya dituntut memiliki pengetahuan keislaman. Mereka juga perlu membaca pertanyaan dengan cermat, menjaga konsentrasi, dan bekerja sebagai sebuah tim.
Ada pelajaran yang berbeda ketika anak berkompetisi bersama teman. Kemampuan individu tetap penting, tetapi kerja sama juga memiliki peran. Setiap anggota menjadi bagian dari tim yang sama, membawa tanggung jawab bersama dalam menghadapi tantangan.
Capaian Aufa, Caca, dan Kenzie melengkapi cerita MAPSI MPlus tahun ini. Dari pidato, tahfidz, kaligrafi, tilawah, dan azan hingga cerdas cermat Islami, setiap bidang menghadirkan tantangan yang berbeda.
Tidak semua anak belajar melalui cara yang sama. Ada yang mengembangkan kemampuan lewat latihan tampil, ada yang tekun mengulang hafalan, ada yang belajar melalui karya, dan ada yang mengasah pengetahuan bersama teman.
Yang penting, setiap proses memberi kesempatan bagi anak untuk terus belajar dan berkembang.
Satu Langkah, Sejuta Inspirasi: Muhammad Fadhil Alfansyah
Muhammad Fadhil Alfansyah berhasil meraih Juara 2 Cabang Pidato Putra dalam ajang Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Seni Islami (MAPSI) 2026 tingkat Kabupaten Magelang. Capaian ini menjadi bukti bahwa keberanian menyampaikan pesan kebaikan, kemampuan berkomunikasi, dan semangat belajar merupakan potensi yang patut terus dikembangkan. Sejalan dengan komitmen MPlus sebagai Sekolah Para Juara, prestasi ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi sekolah, tetapi juga menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan sekadar tentang pengetahuan, melainkan tentang membentuk generasi yang berakhlak mulia, percaya diri, dan mampu menginspirasi melalui kata-kata serta tindakan nyata
Jadi, Apa yang Sebenarnya kekuatan yang menjadi modal di masa depan?
Piala dan predikat juara tentu layak disyukuri. Namun, perjalanan sembilan siswa MPlus ini mengajak kita melihat sesuatu yang lebih luas daripada hasil perlombaan.
Nisrinaa belajar mengelola kegugupan. Raihaanun membangun kebiasaan mengulang hafalan. Afkar dan Selma melatih ketelitian serta kesabaran. Kenneth menjaga konsistensi latihan tilawah, sementara Haikal belajar melawan rasa malas. Aufa, Caca, dan Kenzie memperoleh pengalaman berkompetisi sebagai sebuah tim.
Kemampuan mereka berbeda. Tantangannya pun tidak sama.
Tetapi, semuanya memperlihatkan bahwa proses pendidikan tidak cukup hanya dengan memberikan materi atau menetapkan target. Anak juga membutuhkan kesempatan untuk mencoba, pendampingan untuk memperbaiki kekurangan, dan dukungan ketika rasa percaya diri mereka melemah.
Di MPlus, pengembangan kemampuan siswa berjalan melalui pembelajaran, pembiasaan, bimbingan guru, kegiatan keislaman, serta ruang pengembangan minat dan bakat. Melalui proses tersebut, sekolah berupaya membantu siswa mengasah kemampuan sekaligus membangun karakter yang menyertainya.
Tentu, tidak semua anak akan mengikuti lomba atau pulang membawa piala. Namun, setiap anak dapat belajar menjadi lebih tekun, lebih berani, lebih teliti, dan lebih bertanggung jawab ketika memperoleh kesempatan serta pendampingan yang sesuai.
Bagi Ayah Bunda, mungkin itulah salah satu hal terpenting untuk diperhatikan saat melihat perjalanan pendidikan putra-putri: bukan hanya apa yang berhasil mereka raih, tetapi juga kebiasaan apa yang sedang mereka bangun dan nilai apa yang mereka pelajari selama prosesnya.
Sebab, juara bukan hanya tentang siapa yang berdiri di podium. Juara juga tentang anak yang mau berlatih ketika belum bisa, mencoba lagi ketika belum berhasil, dan terus memperbaiki diri meski tidak selalu mudah.
Di MPlus, perjalanan menjadi juara dimulai jauh sebelum nama diumumkan. Ia tumbuh dalam proses belajar, latihan yang konsisten, bimbingan yang tepat, dan lingkungan yang mendukung anak untuk terus melangkah.
Siapkan Langkah Pendidikan Putra-Putri Ayah Bunda Bersama MPlus
Setiap anak memiliki perjalanan belajar yang berbeda. Memilih sekolah berarti memilih lingkungan yang akan menemani perjalanan itu—tempat anak belajar, membangun kebiasaan, mengembangkan kemampuan, dan menumbuhkan karakter.
Bagi Ayah Bunda yang sedang merencanakan pendidikan putra-putrinya, informasi indent dan SPMB SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring dapat diakses melalui:
MPlus — Leading and Inspiring
Sekolah Para Juara | Growing Champions, Inside & Outside the Classroom
