Ada anak yang tekun melatih suara dan irama saat membaca Al-Qur’an. Ada pula yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyempurnakan goresan kaligrafi. Namun, bagaimana jika perjalanan belajar mereka ternyata tidak berhenti pada satu bidang saja?
Kenneth Adnan Savero dan Selma Fadhilah Carissa memperlihatkan dua perjalanan yang menarik untuk dicermati.
Kenneth dikenal melalui prestasinya dalam tilawah. Selma menekuni kaligrafi dekoratif. Keduanya memiliki bidang yang berbeda, tetapi catatan prestasi mereka menunjukkan bahwa pengalaman belajar dapat meluas ke ruang yang tidak selalu kita duga.
Kenneth juga tercatat dalam kompetisi matematika dan sains. Sementara itu, Selma memiliki pengalaman di arena olahraga dan kompetisi inovasi.
Pertanyaannya bukan sekadar berapa banyak gelar yang berhasil mereka kumpulkan.
Apa yang sedang mereka pelajari dari pengalaman-pengalaman yang berbeda itu?
Ketika Satu Minat Membuka Jalan ke Pengalaman Lain
Bagi Kenneth, tilawah bukan keterampilan yang muncul dalam semalam.
Ia mulai belajar sejak kelas II SD. Latihan menjadi bagian dari kesehariannya, termasuk menjaga konsistensi bacaan, memperhatikan tajwid, dan melatih irama. Ketika tampil di hadapan juri, ia pun tetap perlu mengelola rasa gugup.
Proses panjang tersebut membawanya meraih Juara 3 Tilawah Putra pada MAPSI 2026 tingkat Kabupaten Magelang. Pada tahun yang sama, Kenneth juga meraih Juara 1 Nasional Tilawah dalam MONACO 2026.
Namun, ada sisi lain dari perjalanan Kenneth yang menarik perhatian.
Namanya juga tercantum sebagai peraih medali perak dalam International Kangaroo Mathematics Contest (IKMC) 2025. Ia pun masuk dalam daftar siswa MPlus yang lolos ke semifinal Kompetisi Sains Nasional Ruangguru (KSNR) 7 tahun 2025.
Tilawah, matematika, dan sains memang menuntut kemampuan yang tidak sepenuhnya sama. Akan tetapi, ketiganya memiliki satu kesamaan: kemampuan tidak cukup hanya dimiliki. Ia perlu dilatih, dipahami, dan terus diperbaiki.
Dari tilawah, Kenneth belajar menjaga bacaan dan ketenangan. Dalam kompetisi akademik, ia berhadapan dengan tantangan berpikir dan memecahkan soal.
Pengalaman-pengalaman itu memperlihatkan bahwa minat yang ditekuni tidak harus membatasi kesempatan belajar pada satu bidang saja.

Delapan Jam Menekuni Kaligrafi, Lalu Belajar dari Arena yang Berbeda
Perjalanan Selma Fadhilah Carissa menghadirkan cerita lain.
Pada MTQ Kabupaten Magelang 2026, Selma meraih Juara 2 Kaligrafi Dekoratif. Sebelumnya, ia juga tercatat meraih Juara 3 Kaligrafi Putri pada MAPSI 2026 tingkat Kabupaten Magelang.
Bagi orang yang melihat hasil akhirnya, sebuah karya kaligrafi mungkin tampak seperti perpaduan tulisan, warna, dan ornamen yang indah. Padahal, proses pembuatannya menuntut ketelitian dan kesabaran.
Dalam wawancara untuk MAPSI, Selma menceritakan bahwa satu sesi latihan dapat berlangsung sekitar delapan jam. Ia mengerjakan beberapa bagian, mulai dari pengecatan, penulisan khat, hingga mozaik.
Tidak ada jalan pintas untuk menyelesaikan karya semacam itu. Setiap bagian perlu diperhatikan, dan kesalahan bisa berarti pekerjaan harus diperbaiki kembali.
Menariknya, perjalanan Selma tidak hanya tercatat di bidang seni Islami.
Pada POPDA Kabupaten Magelang 2026, ia meraih Juara 3 Tenis Meja Putri. Namanya juga tercantum dalam daftar tim peraih medali perak pada Indonesia Inventors Day 2026, bagian dari perjalanan Eduventure MPlus.
Kaligrafi, tenis meja, dan inovasi membawa tantangan yang berbeda. Kaligrafi menuntut ketelitian dalam menghasilkan karya. Tenis meja memerlukan fokus dan respons terhadap situasi pertandingan. Sementara itu, pengalaman inovasi membuka kesempatan untuk terlibat dalam pengembangan dan presentasi gagasan bersama tim.
Kita tidak perlu menyimpulkan bahwa semua kemampuan tersebut otomatis terbentuk hanya karena seorang anak mengikuti beberapa kegiatan. Namun, pengalaman yang beragam memberi anak kesempatan untuk berlatih menghadapi tuntutan yang berbeda.
Dan kesempatan semacam itulah yang bernilai dalam pendidikan.

Masa Depan Tidak Selalu Mengikuti Satu Jalur
Coba bayangkan perjalanan seorang anak beberapa tahun ke depan.
Hari ini, ia berlatih membaca Al-Qur’an dengan baik. Besok, ia mungkin harus menyampaikan gagasan di depan orang lain. Di kesempatan berbeda, ia perlu memecahkan persoalan, bekerja bersama tim, atau menghadapi situasi yang belum pernah ditemuinya.
Tidak semua tantangan tersebut bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan satu keterampilan.
Anak membutuhkan pengetahuan, tetapi juga perlu belajar menggunakannya. Ia membutuhkan minat, tetapi juga perlu membangun ketekunan untuk menjalaninya. Ia membutuhkan keberanian mencoba, sekaligus kesediaan menerima koreksi.
Di sinilah pengalaman belajar di luar pelajaran rutin dapat memiliki arti.
Kompetisi bukan jaminan bahwa anak akan selalu berhasil pada tantangan berikutnya. Namun, ketika dijalani dengan pendampingan dan refleksi yang baik, pengalaman tersebut dapat menjadi kesempatan untuk melatih kebiasaan yang berguna: mempersiapkan diri, mengelola waktu, menghadapi tekanan, dan memperbaiki kekurangan.
Hal-hal itu mungkin tidak langsung terlihat dalam sebuah foto kemenangan. Namun, semuanya merupakan bagian dari bekal yang bisa terus dikembangkan.



Bukan Berarti Anak Harus Menguasai Semuanya
Ada satu hal yang perlu diingat ketika melihat perjalanan Kenneth dan Selma.
Kisah mereka bukan ajakan agar setiap anak mengikuti banyak lomba atau menekuni semua bidang sekaligus.
Setiap anak memiliki minat, kesiapan, dan ritme belajar yang berbeda. Ada yang memilih mendalami satu bidang dalam waktu panjang. Ada yang tertarik mengeksplorasi beberapa kegiatan sebelum menentukan fokusnya.
Keduanya dapat menjadi bagian dari perjalanan pendidikan yang sehat selama anak memperoleh pendampingan yang sesuai dan tetap memiliki ruang untuk belajar secara seimbang.
Peran sekolah bukan menuntut semua siswa memiliki daftar prestasi yang sama. Yang lebih penting adalah menghadirkan kesempatan belajar yang bermakna, membantu anak mengenali kemampuannya, serta mendampingi mereka ketika menghadapi kesulitan.
Di MPlus, pembelajaran akademik berjalan berdampingan dengan kegiatan keislaman, pengembangan minat dan bakat, olahraga, serta pengalaman seperti Eduventure. Beragam kegiatan tersebut menyediakan konteks berbeda bagi siswa untuk belajar dan mencoba.
Tentu, hasil setiap anak tidak akan sama. Namun, pengalaman yang dirancang dengan baik dapat membantu mereka memahami bahwa belajar bukan hanya tentang memperoleh nilai atau gelar, melainkan juga tentang bagaimana menghadapi proses.



Pertanyaan yang Lebih Penting daripada “Juara Berapa?”
Prestasi Kenneth dan Selma layak diapresiasi. Kenneth menunjukkan capaian dalam tilawah sekaligus kompetisi akademik. Selma menekuni kaligrafi dan juga memiliki pengalaman di bidang olahraga serta inovasi.
Namun, ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting bagi orang tua dan pendidik:
Setelah perlombaan selesai, apa yang masih dibawa anak pulang?
Mungkin kebiasaan berlatih. Mungkin kemampuan menerima masukan. Mungkin pengalaman bekerja sama dengan teman. Atau pemahaman bahwa sesuatu yang sulit bisa dipelajari secara bertahap.
Kita tidak selalu bisa memastikan ke mana sebuah pengalaman akan membawa anak. Masa depan mereka masih terbuka, dan jalan yang ditempuh bisa berubah seiring waktu.
Justru karena itulah pendidikan perlu memberi bekal yang lebih luas daripada sekadar menyiapkan anak untuk satu jenis keberhasilan.
Anak perlu mendapat kesempatan untuk mengenali minatnya, memperkuat pengetahuannya, mencoba tantangan baru, dan belajar mengambil tanggung jawab atas prosesnya sendiri.
Bukan supaya semua anak menjadi serba bisa.
Melainkan agar ketika berhadapan dengan kesempatan yang baru, mereka memiliki kemauan untuk belajar dan keberanian untuk memulai.
Menyiapkan Anak untuk Dunia yang Terus Berubah
Dunia masa depan tidak selalu menanyakan berapa banyak piala yang pernah dimiliki seseorang. Dalam banyak situasi, seseorang juga perlu mampu memahami persoalan, berkomunikasi, bekerja sama, menyesuaikan diri, dan terus belajar.
Pengalaman Kenneth dan Selma memberi gambaran tentang bagaimana perjalanan pendidikan dapat memiliki lebih dari satu dimensi.
Tilawah dan kaligrafi memberi ruang untuk menekuni seni Islami. Kompetisi akademik menghadirkan tantangan berpikir. Olahraga melibatkan fokus dan pengambilan keputusan. Pengalaman inovasi memberi kesempatan untuk berkolaborasi dan mengembangkan gagasan.
Setiap bidang memiliki nilai dan tantangannya sendiri.
Tugas pendidikan adalah membantu anak menjalani proses tersebut secara terarah, tanpa kehilangan keseimbangan antara prestasi, karakter, pengetahuan, dan kebutuhan mereka sebagai individu yang sedang berkembang.
Sebab, masa depan tidak bisa dipersiapkan hanya dengan menebak satu profesi atau satu jalur keberhasilan. Anak juga perlu dibekali kemampuan untuk terus belajar ketika keadaan berubah.
Dan kemampuan itu dibangun sedikit demi sedikit—melalui kebiasaan, pengalaman, pendampingan, serta kesempatan untuk mencoba.
Mengenal Lebih Dekat Budaya Belajar MPlus
Kisah Kenneth dan Selma merupakan dua dari beragam perjalanan siswa SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring. Setiap kegiatan menghadirkan tantangan yang berbeda, dan setiap pengalaman dapat menjadi bagian dari proses belajar yang lebih luas.
Ayah Bunda dapat mengenal lebih dekat aktivitas, program, dan budaya belajar MPlus melalui kanal resmi sekolah:
- Website: https://smpmplus.sch.id/
- YouTube: SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring
- Instagram: https://www.instagram.com/smp_mplus_gunungpring/
- Facebook: https://www.facebook.com/SMPMuhammadiyahPlusGunungpring
- TikTok: https://www.tiktok.com/@smpmuhammadiyahplusgunungpring
Informasi indent dan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tersedia melalui:
MPlus — Leading and Inspiring
Sekolah Para Juara | Growing Champions, Inside & Outside the Classroom
