SMP MPlus Gunungpring

Ada yang baru mengenal aksara Jawa setelah pindah dari Kalimantan. Ada yang kembali menulis setelah sempat berhenti. Ada pula yang jatuh cinta pada dongeng sejak SD. Di Festival Tunas Bahasa Ibu 2026, ketiganya bertemu dalam satu hal: keinginan untuk menjaga bahasa dan budaya tetap hidup.

Bagi Cinta Yuna Maritza, aksara Jawa bukan sesuatu yang sejak kecil akrab di matanya.

Ia baru mengenalnya ketika duduk di kelas VI SD, setelah pindah dari Kalimantan Tengah.

Kesan pertamanya sederhana. Tulisan itu terlihat unik, dengan bentuk garis-garis yang sekilas tampak mirip satu sama lain.

Dari rasa penasaran itulah perkenalannya dengan aksara Jawa bermula.

Kini, Cinta adalah siswa kelas IX-A SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring (MPlus) yang berhasil meraih Juara 2 kategori Maca lan Nulis Aksara Jawa dalam Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2026 tingkat Kabupaten Magelang.

Ada perjalanan yang cukup panjang di antara kesan pertamanya terhadap aksara Jawa dan pencapaian tersebut.

Ia memulai dari dasar: mengenali huruf dan sandhangan, kemudian mempelajari aksara lainnya dan berlatih membaca teks Sriwedari. Salah satu cara yang paling membantunya adalah membaca aksara Jawa sambil disimak oleh ustadzah pembimbing. Dari sana, ia dapat mengetahui bagian yang benar, memperbaiki kesalahan, dan semakin terbiasa membaca.

Namun, memahami aksara Jawa di tengah proses belajar ternyata berbeda dengan mengerjakannya dalam situasi perlombaan.

Cinta semula mengira membaca akan menjadi bagian yang paling menegangkan. Ternyata, menulis justru menjadi tantangan tersendiri.

Pada menit-menit awal, ia masih bisa berpikir dengan cukup tenang. Mendekati akhir waktu, situasinya berubah. Ia merasa dikejar waktu, berkeringat dingin, gemetar, dan jantungnya berdebar.

Di tengah ketegangan itu, ia harus tetap berkonsentrasi.

Ada satu hal yang membantunya bertahan ketika mulai merasa bingung: dukungan dari pembimbing yang terus menyemangati dan meyakinkannya bahwa ia bisa.

Cinta akhirnya membawa pulang gelar juara. Namun, ada hal lain yang membuat pengalaman itu berarti baginya.

Ketika ditanya bagaimana rasanya mampu membaca tulisan warisan leluhur yang tidak semua orang bisa membacanya, ia menjawab dengan satu kata: bangga.

Sebab, menurutnya, orang yang menggunakan dan memahami aksara Jawa kini semakin jarang.

Ketika ada yang menganggap aksara Jawa rumit dan tidak berguna, Cinta tidak sepenuhnya membantah bagian pertama.

Ia mengakui bahwa aksara Jawa memang rumit untuk dipelajari.

Tetapi ia tidak sepakat jika kerumitan itu dijadikan alasan untuk menganggapnya tidak berguna.

Baginya, mempelajari aksara Jawa adalah bagian dari pelestarian budaya.

Dan dari seorang anak yang baru mengenal aksara Jawa setelah pindah dari Kalimantan, ada satu hal yang menarik untuk direnungkan: kedekatan dengan budaya tidak selalu hadir secara otomatis. Terkadang, ia tumbuh setelah seseorang diberi kesempatan untuk mengenalnya.

Cerita yang Dimulai Kembali

Jika Cinta menemukan aksara Jawa melalui pengalaman baru, Reynard Dzakiyy Muazzam menemukan kembali sesuatu yang pernah ia tinggalkan.

Siswa kelas VIII-B ini mulai menulis sejak kelas IV SD. Namun, ia sempat berhenti selama beberapa tahun sebelum kembali menulis ketika duduk di kelas VIII.

Kali ini, ia tidak hanya menulis untuk dirinya sendiri. Ia mengikuti FTBI 2026 dan berhasil meraih Juara 1 kategori Nulis Cerkak atau menulis cerita pendek berbahasa Jawa tingkat Kabupaten Magelang.

Bagi Reynard, ide cerita tidak harus datang dari sesuatu yang luar biasa.

Lingkungan sekitar justru menjadi salah satu sumber inspirasinya.

Dari apa yang ia amati, cerita kemudian berkembang melalui pikirannya. Ia mempertimbangkan bagaimana cerita itu disusun dan bagaimana gagasan dapat disampaikan dengan tepat.

Ada satu prinsip yang ia pegang selama menulis: ketepatan lebih penting daripada kecepatan.

Prinsip itu menjadi relevan ketika ia harus menyelesaikan cerkak dalam suasana perlombaan.

Reynard mengaku sempat gugup karena merasa waktu latihannya terlalu singkat. Keterbatasan kosakata bahasa Jawa juga menjadi tantangan yang harus dihadapinya.

Namun, dukungan dari teman-teman selama latihan membantunya membangun kepercayaan diri.

Ia tetap menjalani prosesnya hingga berhasil meraih juara pertama.

Pengalaman tersebut memberinya lebih dari sekadar pencapaian lomba. Ia mengenal lebih banyak kosakata bahasa Jawa dan semakin percaya diri mengekspresikan gagasan melalui tulisan.

Menariknya, pesan Reynard kepada teman-teman yang ingin menulis justru tidak berpusat pada teknik menulis atau keharusan menghasilkan cerita yang sempurna.

Ia mengajak mereka untuk terus mengembangkan ide dan tidak mudah menyerah hanya karena merasa gagasannya biasa saja.

Pesan itu berlaku bukan hanya bagi penulis cerkak.

Sebab, salah satu hambatan ketika seseorang mulai berkarya adalah anggapan bahwa idenya belum cukup menarik untuk diceritakan.

Padahal, cerita yang baik tidak selalu dimulai dari peristiwa besar. Ia bisa berangkat dari hal-hal yang dekat, selama penulis bersedia mengamati, mengolah, dan mengembangkannya.

Dalam proses Reynard, bahasa Jawa menjadi medium untuk belajar menulis sekaligus cara untuk mengekspresikan pikiran.

Bahasa yang dipelajarinya bukan sekadar kumpulan kosakata yang harus dihafal, melainkan sesuatu yang bisa digunakan untuk membangun cerita.

Menunggu Giliran, Lalu Menghidupkan Cerita

Radinka Keenan Arsatya memiliki jalan yang berbeda.

Siswa kelas VII-B ini mengenal dunia ndongeng ketika masih SD. Saat itu, ia dipilih oleh ustadzah untuk mewakili sekolah dalam lomba dongeng tingkat kecamatan. Ia berhasil meraih Juara 3.

Pengalaman tersebut membuatnya semakin tertarik pada dongeng.

Ketertarikan itu kemudian membawanya ke FTBI 2026, tempat ia kembali tampil dan meraih Juara 3 kategori Ndongeng tingkat Kabupaten Magelang.

Namun, mendongeng dalam bahasa Jawa tidak cukup hanya dengan menghafal jalan cerita.

Radinka harus memikirkan pilihan bahasa, ekspresi, dan intonasi agar cerita dapat disampaikan dengan tepat. Bagian inilah yang menurutnya paling menantang. Ketika berlatih, ia masih sering bingung menyesuaikan bahasa Jawa yang digunakan dengan ekspresi dan intonasi.

Ada pula tantangan lain yang mungkin tidak terlalu terlihat oleh penonton: menunggu giliran tampil.

Radinka mengaku bahwa menunggu merupakan bagian yang paling menegangkan. Namun, begitu tiba waktunya tampil, ia berusaha percaya diri dan mengerahkan seluruh kemampuannya.

Dalam persiapannya, ia mendapatkan dukungan dari ustadzah pembimbing. Ia juga mengikuti latihan dengan pelatih yang difasilitasi sekolah.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa mendongeng bukan hanya tentang keberanian berbicara di depan orang lain. Ada proses untuk memahami bahasa, mengolah ekspresi, mengatur intonasi, dan menyampaikan cerita agar dapat dinikmati pendengar.

Bagi Radinka, proses itu juga berkaitan dengan sesuatu yang lebih luas daripada lomba.

Ketika ditanya mengapa anak seusianya masih perlu belajar bahasa Jawa dan mendongeng di tengah perkembangan gawai serta media sosial, jawabannya tegas.

Teknologi memang penting. Namun, budaya dan akar identitas tidak boleh hilang.

Ia bahkan menyampaikan pesan kepada teman-temannya agar tidak menganggap bahasa Jawa sebagai beban, melainkan sebagai kekayaan yang dimiliki.

Baginya, teknologi bisa berubah, tetapi budaya adalah warisan yang tidak ternilai harganya.

Bahasa yang Hidup, Bukan Sekadar Materi Pelajaran

Tiga siswa, tiga pengalaman, dan tiga kategori lomba yang berbeda.

Cinta belajar membaca serta menulis aksara Jawa. Reynard kembali menekuni tulisan melalui cerkak. Radinka menghidupkan cerita melalui dongeng.

Mereka tidak menempuh jalan yang sama. Namun, pengalaman ketiganya memperlihatkan bahwa bahasa Jawa dapat dipelajari melalui beragam cara: membaca, menulis, dan bercerita.

Di sinilah pelestarian bahasa dan budaya mendapatkan bentuk yang lebih konkret.

Bahasa tidak hanya dibicarakan sebagai warisan masa lalu. Bahasa digunakan untuk membaca, menyampaikan gagasan, menciptakan cerita, dan berkomunikasi dengan orang lain.

Tentu, mempelajari bahasa Jawa tidak selalu mudah. Cinta harus membiasakan diri membaca aksara yang awalnya terasa asing. Reynard berhadapan dengan keterbatasan kosakata. Radinka harus menyelaraskan bahasa dengan ekspresi dan intonasi ketika mendongeng.

Namun, kesulitan tersebut menjadi bagian dari proses mereka mengenal bahasa lebih dalam.

Pengalaman mereka di FTBI 2026 juga memperlihatkan bahwa menjaga budaya tidak harus dilakukan dengan menjauh dari perkembangan zaman. Anak-anak tetap bisa hidup bersama teknologi, menggunakan media digital, dan mempelajari hal-hal baru, sembari mengenal bahasa serta tradisi yang diwariskan kepada mereka.

Justru generasi muda perlu mendapatkan ruang untuk berinteraksi dengan warisan budayanya menggunakan cara yang dekat dengan kehidupan mereka.

Di MPlus, pengalaman belajar seperti ini menjadi bagian dari upaya mendampingi siswa mengembangkan kemampuan sekaligus mengenal nilai yang mereka pelajari. Dukungan pembimbing, latihan, kesempatan berkompetisi, dan keberanian untuk mencoba menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Cinta, Reynard, dan Radinka telah membawa pulang hasil dari kerja mereka. Namun, cerita mereka juga mengingatkan bahwa bahasa dan budaya tidak akan terus hidup hanya karena pernah diwariskan.

Keduanya perlu dipelajari, digunakan, dan diteruskan.

Sebab, warisan budaya tidak cukup hanya dikenang. Ia perlu diberi kesempatan untuk tetap hidup di tangan generasi berikutnya.

Tiga siswa, tiga perjalanan, dan satu pelajaran yang sama: kemampuan tidak selalu tumbuh melalui jalan yang lurus. Ada yang bermula dari rasa penasaran, ada yang harus berani memulai kembali, dan ada yang menemukan keberanian melalui cerita.

Di MPlus, proses seperti inilah yang penting untuk terus dirawat. Anak perlu mendapat kesempatan untuk mencoba, berlatih, menghadapi kesulitan, dan mengembangkan minatnya dengan pendampingan yang tepat. Sebab, pendidikan bukan hanya tentang apa yang berhasil diraih hari ini, tetapi juga tentang kebiasaan, keberanian, dan karakter yang dibangun sepanjang perjalanan.

Ayah Bunda yang sedang menyiapkan pendidikan putra-putrinya, perjalanan belajar setiap anak layak dipersiapkan dengan sungguh-sungguh. Indent MPlus menjadi langkah awal untuk merencanakan pendidikan putra-putri Ayah Bunda bersama SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring.

Informasi indent dan SPMB dapat diakses melalui:
https://smpmplus.sch.id/info_spmb/

MPlus — Leading and Inspiring
Sekolah Para Juara | Growing Champions, Inside & Outside the Classroom