Muntilan, Sabtu pagi. Kebanyakan anak seusia mereka masih rebahan, scrolling TiktTok, atau seru-seruan main game di kamar. Tapi di sudut lain kota — sekelompok anak berseragam ungu dari Gunungpring, Muntilan, sedang duduk serius di depan papan sirkuit, kabel, dan layar kode yang berkedip-kedip. Mereka tidak sedang dihukum. Mereka tidak sedang terpaksa. Mereka sedang bersiap menang.
Dan benar saja — beberapa hari kemudian, nama-nama itu terpampang di papan hasil Jogja Robotics Coding Games Competition 2026. Bukan di urutan bawah. Di podium.
Kompetisi yang Tidak Semua Anak Berani Ikut
JRCG #2 Olympiad — Jogja Robotics Coding Games Competition 2026 — bukan lomba coba-coba. Ini arena serius. Tiga cabang dipertandingkan: Robot Line Maze, Coding SMP, dan Robot RC Wemos. Pesertanya datang dari sekolah-sekolah yang memang sudah punya program teknologi kuat. Dan di tengah semua itu, enam siswa SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring turun gelanggang. Hasilnya? Lima medali. Dua emas. Dua perak. Satu perunggu.
## Satu Per Satu, Ini Orangnya

🥇 Hafizh Sava Bramantya — Kelas 7C Medali Emas, Robot Line Maze. Hafizh bukan anak yang banyak omong. Di kelas, dia lebih banyak diam dan mengamati. Tapi taruh dia di depan robot dan labirin — dan sesuatu berubah. Di cabang Robot Line Maze, dia harus memprogram robot agar bisa membaca jalur, mengambil keputusan di setiap persimpangan, dan menemukan jalan keluar — sendiri, tanpa disentuh. Hafizh melakukannya lebih cepat dan lebih akurat dari semua peserta lain. Medali emas. Kelas 7. Usia 13 tahun.

🥇 Avicenna Naufal Paramudya — Kelas 8C Medali Emas, Coding SMP. Avicenna punya cara tersendiri kalau ditanya soal coding.
“Buat saya coding itu kayak nulis cerita — tapi karakternya robot, dan kalau ada satu kata salah, ceritanya langsung kacau.”
Di cabang Coding SMP, dia tampil tenang dari babak awal sampai akhir. Tidak ada momen panik. Tidak ada revisi yang tergesa-gesa. Hanya ketikan yang rapi dan logika yang berjalan lurus. Emas. Sudah.

🥈 Helga Maheswara Bhara Adjie S — Kelas 7E Medali Perak, Robot Line Maze. Helga masuk MPlus bukan karena tahu dia akan jadi juara robotik. Dia masuk karena orang tuanya percaya pada sekolah ini. Delapan bulan kemudian, dia berdiri di podium perak kompetisi robotik regional — dengan senyum yang agak tidak percaya sendiri.
“Jujur, saya kaget bisa sampai sini,” katanya pelan. “Tapi ya, di MPlus memang diajari dari nol sampai bisa.”

🥈 Octavian Wafiy Khairunnas — Kelas 7D Medali Perak, Coding SMP. Satu kelas dengan Alvaro. Dua anak dari ruangan yang sama, naik podium di cabang yang sama. Octavian bukan siswa yang nampak menonjol dari luar. Tapi begitu kompetisi dimulai, konsentrasinya tidak terpecah. Jarinya bergerak di keyboard dengan ritme yang konsisten — dan hasilnya perak.

🥉 Alvaro Rajendra Ali — Kelas 7D Medali Perunggu, Coding SMP. Kalau Octavian perak, Alvaro perunggu. Dua anak, satu kelas, dua medali. Ini bukan kebetulan duduk sebangku. Ini soal lingkungan yang membentuk keduanya dengan cara yang sama — cara yang membuat mereka sama-sama bisa bersaing di level regional.

🥉 Muhammad Fachry Wibowo — Kelas 7C Medali Perunggu, Robot RC Wemos Robot RC Wemos menggabungkan dua hal sekaligus: pemrograman mikrokontroler dan kendali jarak jauh. Materi yang biasanya baru muncul di bangku kuliah teknik — atau minimal SMK jurusan elektronika. Fachry mempelajarinya di kelas 7. Dan dia tidak sekadar paham — dia naik podium.
## Tunggu. Ini Semua Masih Kelas 7?
Ya. Lima dari enam peraih medali itu masih kelas 7. Baru sekitar delapan bulan bersekolah di MPlus. Belum genap satu tahun. Sudah kompetisi. Sudah podium. Ini yang membuat banyak orang tua yang mendengar cerita ini langsung bertanya hal yang sama:
*”Sekolah ini ngajarin apa sih sebetulnya?”* Jawabannya bukan satu kalimat.
Tapi kalau harus disederhanakan: MPlus mengajari anak untuk tidak takut mencoba hal yang susah. Dan itu dimulai dari hari pertama mereka masuk kelas.
# Sekolah yang Menyenangkan Itu Bukan Berarti Sekolah yang Santai
Ada miskonsepsi yang sering beredar di kalangan orang tua: sekolah yang menyenangkan berarti sekolah yang tidak serius. MPlus membuktikan sebaliknya. Di sini, anak-anak senang bukan karena tidak ada tantangan — tapi karena tantangannya dirancang untuk bisa mereka taklukkan. Sedikit demi sedikit. Dengan pendampingan guru yang tidak sekadar mengajar, tapi benar-benar mendampingi. Robotik bukan ekskul yang sekadar pelengkap jadwal. Coding bukan pelajaran yang diajarkan setengah-setengah. Keduanya dibangun serius — dengan fasilitas, dengan metode, dan dengan guru yang tahu ke mana mereka ingin membawa anak didiknya. Hasilnya bisa dilihat hari ini. Lima medali dari enam anak. Dari satu sekolah. Dari Gunungpring, Muntilan.
# Buat Bapak dan Ibu yang Sedang Mencari Sekolah Terbaik untuk Anak
Kalau Anda membaca ini sampai sini, kemungkinan besar Anda sedang mempertimbangkan sekolah untuk anak di tahun ajaran baru. Anda ingin sekolah yang serius — tapi tidak membuat anak tertekan. Yang berprestasi — tapi tetap membuat anak betah. Yang mengajarkan nilai agama yang kuat — tapi juga mempersiapkan anak untuk dunia yang semakin digital. Cerita Hafizh, Avicenna, Helga, Octavian, Alvaro, dan Fachry mungkin bisa jadi jawaban atas pertanyaan yang selama ini Anda cari. Mereka masuk sebagai anak biasa. Delapan bulan kemudian, mereka pulang dari kompetisi robotik regional dengan medali di tangan. Sekolah mana lagi yang bisa bercerita seperti itu?
Kalau Anda penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang MPlus — tidak ada salahnya mampir dulu, lihat langsung suasananya, dan rasakan sendiri kenapa banyak orang tua memilih sekolah ini untuk anak mereka.
📲 Informasi SPMB & Pendaftaran: https://smpmplus.sch.id/info_spmb/
Tidak ada tekanan. Tapi siapa tahu — ini keputusan terbaik yang pernah Anda buat untuk masa depan anak.
▶️ YouTube : https://www.youtube.com/@SMPMuhammadiyahPlusGunungpring
📸 Instagram : https://www.instagram.com/smp_mplus_gunungpring
📘 Facebook : https://www.facebook.com/mplusgunungpring
🎵 TikTok : https://www.tiktok.com/@smpmuhammadiyahplusgunungpring